Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Air Bersih dan Martabat Desa: Pelajaran dari PAMSIMAS

Air Bersih dan Martabat Desa: Pelajaran dari PAMSIMAS

  • account_circle Devina
  • calendar_month Kam, 19 Jun 2025

Lens IDN, Kolom – Air bersih sering dianggap persoalan teknis: soal pipa, sumber mata air, atau jaringan distribusi. Namun bagi masyarakat desa, air bersih jauh lebih dari itu. Ia berkaitan langsung dengan martabat manusia, kesehatan keluarga, produktivitas ekonomi, dan kualitas hidup sehari-hari.

Di banyak wilayah pedesaan Indonesia, akses air bersih masih menjadi PR sekaligus perjuangan harian. Sebagian warga masih harus berjalan jauh untuk mengambil air, mengorbankan waktu produktif dan tenaga yang seharusnya dapat digunakan untuk bekerja kegiatan lain yang dapat meningkatkan kualitas kehidupan dan meningkatkan kesejahteraan. Karena itu, ketika pemerintah meluncurkan Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS), harapan besar pun muncul: desa mampu mandiri menyediakan layanan air melalui partisipasi warganya sendiri.

Lebih dari satu dekade berjalan, pertanyaan penting kini muncul: apakah PAMSIMAS benar-benar berhasil, dan yang lebih penting, apakah ia mampu bertahan?

Antara Infrastruktur dan Keberlanjutan

Sejak diluncurkan pada 2008, PAMSIMAS telah menjangkau puluhan ribu desa di Indonesia. Program ini berbeda dari pendekatan pembangunan konvensional karena menempatkan masyarakat sebagai pengelola dan actor utama layanan air dan sanitasi. Negara membangun fondasi, tetapi keberlanjutan diserahkan kepada komunitas lokal.

Pendekatan ini secara konseptual tepat. Namun praktik di lapangan menunjukkan bahwa membangun infrastruktur jauh lebih mudah dibanding menjaga dan mempertahankan keberlanjutannya.

Penelitian evaluasi yang saya pernah lakukan di Kabupaten Magelang memperlihatkan kenyataan tersebut. Studi pada Desa Tembelang dan Desa Pasuruhan menunjukkan tingkat kepuasan masyarakat yang berbeda meskipun keduanya menerima program yang sama. Indeks kepuasan masyarakat (Customer Satisfaction Index) di Desa Tembelang mencapai 54,66 atau kategori cukup puas, sementara Desa Pasuruhan hanya 46,04 yang menunjukkan tingkat kepuasan rendah.

Perbedaan ini bukan disebabkan oleh teknologi atau besarnya investasi, melainkan oleh kualitas tata kelola dan kapasitas pengelolaan lokal.

Desa dengan manajemen layanan yang responsif cenderung mempertahankan kepuasan warga. Sebaliknya, lemahnya koordinasi kelembagaan dan komunikasi pengelola cepat menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan. Dengan kata lain, keberhasilan program air bersih lebih merupakan persoalan sosial daripada sekedar permasalahan teknis.

Ketika Air Mengubah Kehidupan

Pengalaman Desa Sudimara di Kabupaten Banyumas memberikan gambaran sisi optimistis dari program ini. Sebelum layanan air tersedia, warga harus berjalan hingga dua kilometer untuk mengambil air. Aktivitas tersebut menghabiskan sekitar dua jam setiap hari, waktu yang secara ekonomi setara ratusan ribu rupiah per bulan jika dihitung sebagai kehilangan produktivitas.

Setelah layanan PAMSIMAS berjalan, air bersih dapat diakses langsung di rumah dengan iuran bulanan yang relatif murah. Dampaknya tidak hanya pada penghematan biaya, tetapi juga perubahan kualitas hidup: kesehatan membaik, waktu kerja bertambah, dan beban domestic terutama bagi perempuan menurun signifikan.

Survei pelanggan yang dilakukan menunjukkan mayoritas warga merasa layanan meningkatkan kenyamanan hidup dan bersedia terus membayar iuran. Loyalitas pengguna yang bertahan lebih dari sepuluh tahun menunjukkan bahwa ketika dikelola dengan baik, layanan berbasis masyarakat dapat berfungsi secara berkelanjutan.

Namun Sudimara adalah contoh keberhasilan yang tidak otomatis terjadi di semua desa.

Faktor Penentu: Manusia, Bukan Sekadar Program

Hasil penelitian di Magelang menunjukkan bahwa keberlanjutan PAMSIMAS ditentukan oleh beberapa faktor kunci: partisipasi masyarakat, dukungan pemerintah desa, kepemimpinan pengelola lokal, serta sistem distribusi air yang sesuai kondisi geografis.

Sebaliknya, hambatan utama justru bersifat kelembagaan: keterbatasan dana operasional, kapasitas teknis pengelola yang rendah, serta lemahnya mekanisme komunikasi dan pengawasan layanan.

Temuan penting lainnya adalah hubungan yang saling memengaruhi antara efektivitas layanan, kepuasan masyarakat, dan keberlanjutan program. Ketika kualitas layanan menurun, kepuasan warga ikut turun, partisipasi melemah, dan pada akhirnya sistem layanan terancam berhenti beroperasi.

Siklus ini menjelaskan mengapa sebagian desa mampu mempertahankan layanan lebih dari satu dekade, sementara desa lain mengalami stagnasi bahkan kegagalan.

Pelajaran Kebijakan: Tidak Ada Solusi Seragam

Masalah terbesar pembangunan sanitasi di Indonesia bukan lagi pada kurangnya program, tetapi pada pendekatan yang terlalu seragam. Desa memiliki kondisi sosial, geografis, dan kelembagaan yang berbeda. Karena itu strategi keberlanjutan tidak dapat disamakan.

Desa dengan masalah tata kelola membutuhkan penguatan kelembagaan dan transparansi pengelolaan. Sementara desa dengan kendala teknis memerlukan peningkatan kapasitas operasional dan dukungan teknis berkelanjutan.

Artinya, keberhasilan pembangunan air bersih tidak cukup diukur dari jumlah fasilitas yang dibangun, tetapi dari kualitas layanan yang bertahan setelah proyek selesai.

Pemerintah daerah dan desa perlu mulai menetapkan indikator kinerja layanan berbasis kepuasan masyarakat, bukan hanya indikator fisik pembangunan. Pendampingan pasca-program juga menjadi kunci agar pengelola lokal tidak berjalan sendiri tanpa dukungan teknis.

Air Bersih sebagai Investasi Sosial

Air bersih sering ditempatkan sebagai sektor infrastruktur. Padahal, ia adalah investasi sosial jangka panjang. Akses air yang layak berpengaruh langsung pada kesehatan, pendidikan anak, produktivitas kerja, hingga pengurangan kemiskinan.

Pengalaman berbagai desa menunjukkan satu pelajaran penting: program berbasis masyarakat dapat berhasil ketika warga merasa memiliki sistem yang mereka kelola sendiri.

PAMSIMAS pada akhirnya bukan sekadar proyek penyediaan air. Ia adalah proses membangun kepercayaan sosial dan kemandirian desa.

Jika pembangunan ingin benar-benar berkelanjutan, maka fokusnya tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik, tetapi harus berlanjut pada penguatan manusia dan kelembagaan yang menjaganya tetap hidup.

Karena bagi masyarakat desa, air bersih bukan hanya soal mengalirnya air dari keran. Ia adalah tentang hidup yang lebih sehat, lebih produktif, dan lebih bermartabat.

Temuan-temuan tersebut sesungguhnya tidak berdiri sendiri. Berbagai penelitian internasional mengenai tata kelola penyediaan air berbasis masyarakat menunjukkan pola yang serupa di banyak negara berkembang maupun maju. Studi di Indonesia, Ghana, Zimbabwe, hingga Meksiko menemukan bahwa kegagalan layanan air desa jarang disebabkan oleh ketiadaan infrastruktur, melainkan oleh lemahnya kelembagaan lokal, keterbatasan pendanaan operasional, serta menurunnya partisipasi masyarakat setelah proyek selesai. Penelitian tentang community-based water supply juga menegaskan bahwa keberlanjutan layanan sangat dipengaruhi oleh keberadaan organisasi pengelola yang responsif, mekanisme tarif yang realistis, serta dukungan teknis berkelanjutan dari pemerintah dan jejaring kelembagaan yang lebih luas.

Lebih jauh, kajian komparatif lintas negara menunjukkan bahwa rasa kepemilikan masyarakat (sense of ownership) menjadi faktor kunci yang membedakan sistem air yang bertahan lama dengan yang cepat berhenti beroperasi. Ketika masyarakat terlibat dalam pengambilan keputusan, pemeliharaan, dan pembiayaan layanan, mereka tidak hanya menjadi pengguna, tetapi penjaga keberlanjutan sistem itu sendiri. Sebaliknya, pendekatan yang terlalu top down cenderung mengembalikan masyarakat pada posisi penerima pasif, sehingga komitmen kolektif melemah seiring waktu. Temuan-temuan ini memperkuat hasil penelitian di Kabupaten Magelang bahwa keberlanjutan PAMSIMAS pada akhirnya merupakan persoalan tata kelola sosial, bukan semata persoalan teknologi penyediaan air.

Air Bersih dan Martabat Desa: Pelajaran dari PAMSIMAS

Oleh: Gentur Jalunggono

Air bersih sering dianggap persoalan teknis: soal pipa, sumber mata air, atau jaringan distribusi. Namun bagi masyarakat desa, air bersih jauh lebih dari itu. Ia berkaitan langsung dengan martabat manusia, kesehatan keluarga, produktivitas ekonomi, dan kualitas hidup sehari-hari.

Di banyak wilayah pedesaan Indonesia, akses air bersih masih menjadi PR sekaligus perjuangan harian. Sebagian warga masih harus berjalan jauh untuk mengambil air, mengorbankan waktu produktif dan tenaga yang seharusnya dapat digunakan untuk bekerja kegiatan lain yang dapat meningkatkan kualitas kehidupan dan meningkatkan kesejahteraan. Karena itu, ketika pemerintah meluncurkan Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS), harapan besar pun muncul: desa mampu mandiri menyediakan layanan air melalui partisipasi warganya sendiri.

Lebih dari satu dekade berjalan, pertanyaan penting kini muncul: apakah PAMSIMAS benar-benar berhasil, dan yang lebih penting, apakah ia mampu bertahan?

Antara Infrastruktur dan Keberlanjutan

Sejak diluncurkan pada 2008, PAMSIMAS telah menjangkau puluhan ribu desa di Indonesia. Program ini berbeda dari pendekatan pembangunan konvensional karena menempatkan masyarakat sebagai pengelola dan actor utama layanan air dan sanitasi. Negara membangun fondasi, tetapi keberlanjutan diserahkan kepada komunitas lokal.

Pendekatan ini secara konseptual tepat. Namun praktik di lapangan menunjukkan bahwa membangun infrastruktur jauh lebih mudah dibanding menjaga dan mempertahankan keberlanjutannya.

Penelitian evaluasi yang saya pernah lakukan di Kabupaten Magelang memperlihatkan kenyataan tersebut. Studi pada Desa Tembelang dan Desa Pasuruhan menunjukkan tingkat kepuasan masyarakat yang berbeda meskipun keduanya menerima program yang sama. Indeks kepuasan masyarakat (Customer Satisfaction Index) di Desa Tembelang mencapai 54,66 atau kategori cukup puas, sementara Desa Pasuruhan hanya 46,04 yang menunjukkan tingkat kepuasan rendah.

Perbedaan ini bukan disebabkan oleh teknologi atau besarnya investasi, melainkan oleh kualitas tata kelola dan kapasitas pengelolaan lokal.

Desa dengan manajemen layanan yang responsif cenderung mempertahankan kepuasan warga. Sebaliknya, lemahnya koordinasi kelembagaan dan komunikasi pengelola cepat menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan. Dengan kata lain, keberhasilan program air bersih lebih merupakan persoalan sosial daripada sekedar permasalahan teknis.

Ketika Air Mengubah Kehidupan

Pengalaman Desa Sudimara di Kabupaten Banyumas memberikan gambaran sisi optimistis dari program ini. Sebelum layanan air tersedia, warga harus berjalan hingga dua kilometer untuk mengambil air. Aktivitas tersebut menghabiskan sekitar dua jam setiap hari, waktu yang secara ekonomi setara ratusan ribu rupiah per bulan jika dihitung sebagai kehilangan produktivitas.

Setelah layanan PAMSIMAS berjalan, air bersih dapat diakses langsung di rumah dengan iuran bulanan yang relatif murah. Dampaknya tidak hanya pada penghematan biaya, tetapi juga perubahan kualitas hidup: kesehatan membaik, waktu kerja bertambah, dan beban domestic terutama bagi perempuan menurun signifikan.

Survei pelanggan yang dilakukan menunjukkan mayoritas warga merasa layanan meningkatkan kenyamanan hidup dan bersedia terus membayar iuran. Loyalitas pengguna yang bertahan lebih dari sepuluh tahun menunjukkan bahwa ketika dikelola dengan baik, layanan berbasis masyarakat dapat berfungsi secara berkelanjutan.

Namun Sudimara adalah contoh keberhasilan yang tidak otomatis terjadi di semua desa.

Faktor Penentu: Manusia, Bukan Sekadar Program

Hasil penelitian di Magelang menunjukkan bahwa keberlanjutan PAMSIMAS ditentukan oleh beberapa faktor kunci: partisipasi masyarakat, dukungan pemerintah desa, kepemimpinan pengelola lokal, serta sistem distribusi air yang sesuai kondisi geografis.

Sebaliknya, hambatan utama justru bersifat kelembagaan: keterbatasan dana operasional, kapasitas teknis pengelola yang rendah, serta lemahnya mekanisme komunikasi dan pengawasan layanan.

Temuan penting lainnya adalah hubungan yang saling memengaruhi antara efektivitas layanan, kepuasan masyarakat, dan keberlanjutan program. Ketika kualitas layanan menurun, kepuasan warga ikut turun, partisipasi melemah, dan pada akhirnya sistem layanan terancam berhenti beroperasi.

Siklus ini menjelaskan mengapa sebagian desa mampu mempertahankan layanan lebih dari satu dekade, sementara desa lain mengalami stagnasi bahkan kegagalan.

Pelajaran Kebijakan: Tidak Ada Solusi Seragam

Masalah terbesar pembangunan sanitasi di Indonesia bukan lagi pada kurangnya program, tetapi pada pendekatan yang terlalu seragam. Desa memiliki kondisi sosial, geografis, dan kelembagaan yang berbeda. Karena itu strategi keberlanjutan tidak dapat disamakan.

Desa dengan masalah tata kelola membutuhkan penguatan kelembagaan dan transparansi pengelolaan. Sementara desa dengan kendala teknis memerlukan peningkatan kapasitas operasional dan dukungan teknis berkelanjutan.

Artinya, keberhasilan pembangunan air bersih tidak cukup diukur dari jumlah fasilitas yang dibangun, tetapi dari kualitas layanan yang bertahan setelah proyek selesai.

Pemerintah daerah dan desa perlu mulai menetapkan indikator kinerja layanan berbasis kepuasan masyarakat, bukan hanya indikator fisik pembangunan. Pendampingan pasca-program juga menjadi kunci agar pengelola lokal tidak berjalan sendiri tanpa dukungan teknis.

Air Bersih sebagai Investasi Sosial

Air bersih sering ditempatkan sebagai sektor infrastruktur. Padahal, ia adalah investasi sosial jangka panjang. Akses air yang layak berpengaruh langsung pada kesehatan, pendidikan anak, produktivitas kerja, hingga pengurangan kemiskinan.

Pengalaman berbagai desa menunjukkan satu pelajaran penting: program berbasis masyarakat dapat berhasil ketika warga merasa memiliki sistem yang mereka kelola sendiri.

PAMSIMAS pada akhirnya bukan sekadar proyek penyediaan air. Ia adalah proses membangun kepercayaan sosial dan kemandirian desa.

Jika pembangunan ingin benar-benar berkelanjutan, maka fokusnya tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik, tetapi harus berlanjut pada penguatan manusia dan kelembagaan yang menjaganya tetap hidup.

Karena bagi masyarakat desa, air bersih bukan hanya soal mengalirnya air dari keran. Ia adalah tentang hidup yang lebih sehat, lebih produktif, dan lebih bermartabat.

Temuan-temuan tersebut sesungguhnya tidak berdiri sendiri. Berbagai penelitian internasional mengenai tata kelola penyediaan air berbasis masyarakat menunjukkan pola yang serupa di banyak negara berkembang maupun maju. Studi di Indonesia, Ghana, Zimbabwe, hingga Meksiko menemukan bahwa kegagalan layanan air desa jarang disebabkan oleh ketiadaan infrastruktur, melainkan oleh lemahnya kelembagaan lokal, keterbatasan pendanaan operasional, serta menurunnya partisipasi masyarakat setelah proyek selesai. Penelitian tentang community-based water supply juga menegaskan bahwa keberlanjutan layanan sangat dipengaruhi oleh keberadaan organisasi pengelola yang responsif, mekanisme tarif yang realistis, serta dukungan teknis berkelanjutan dari pemerintah dan jejaring kelembagaan yang lebih luas.

Lebih jauh, kajian komparatif lintas negara menunjukkan bahwa rasa kepemilikan masyarakat (sense of ownership) menjadi faktor kunci yang membedakan sistem air yang bertahan lama dengan yang cepat berhenti beroperasi. Ketika masyarakat terlibat dalam pengambilan keputusan, pemeliharaan, dan pembiayaan layanan, mereka tidak hanya menjadi pengguna, tetapi penjaga keberlanjutan sistem itu sendiri. Sebaliknya, pendekatan yang terlalu top down cenderung mengembalikan masyarakat pada posisi penerima pasif, sehingga komitmen kolektif melemah seiring waktu. Temuan-temuan ini memperkuat hasil penelitian di Kabupaten Magelang bahwa keberlanjutan PAMSIMAS pada akhirnya merupakan persoalan tata kelola sosial, bukan semata persoalan teknologi penyediaan air.

 

*) Penulis adalah Gentur Jalunggono, Dosen Universitas Tidar.

  • Penulis: Devina

Rekomendasi Untuk Anda

  • WhatsApp Image 2026-02-09 at 18.20.12

    Mahasiswa KKN PPM ITERA Kelompok 116 Laksanakan Program Pemberdayaan Masyarakat Bersama Pekon Way Nipah

    • calendar_month Sen, 9 Feb 2026
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Lampung – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN PPM) Institut Teknologi Sumatera (ITERA) Kelompok 116 Periode ke-16 Tahun 2026 melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Pekon Way Nipah, Kecamatan Pematang Sawa, Kabupaten Tanggamus. Kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi antara mahasiswa, aparatur pekon, dan masyarakat dalam mendukung penguatan layanan informasi, lingkungan, kesehatan, […]

  • Koalisi Indonesia Anti Korupsi Desak Usut Dugaan KKN di ULP Barang dan Jasa Kabupaten Bogor

    Koalisi Indonesia Anti Korupsi Desak Usut Dugaan KKN di ULP Barang dan Jasa Kabupaten Bogor

    • calendar_month Jum, 29 Agu 2025
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Bogor – Koalisi Indonesia Anti Korupsi (KOSASI) kembali menggelar aksi unjuk rasa di Kabupaten Bogor. Massa menyoroti dugaan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) dalam proses pengadaan barang dan jasa (ULP BJ) Pemerintah Kabupaten Bogor. Koordinator aksi, F. Fawait, menyebutkan demonstrasi tersebut dipicu adanya indikasi persekongkolan dalam pengaturan sejumlah proyek barang dan jasa […]

  • KPID DKI Jakarta

    KPID DKI Jakarta Perkuat Koordinasi Kelembagaan Melalui Kunjungan Resmi ke KPI Pusat

    • calendar_month Sab, 11 Okt 2025
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Jakarta — Dalam upaya mempererat tali silaturahmi dan memperkuat koordinasi kelembagaan di bidang penyiaran, Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi DKI Jakarta melakukan kunjungan resmi ke kantor Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat pada Jumat (10/10/2025). Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran Tenaga Ahli KPID DKI Jakarta serta sejumlah mahasiswa magang dari berbagai perguruan tinggi […]

  • Nuno Espirito Santo Kritik Lambannya Rekrutmen Pemain Nottingham Forest Jelang Hadapi Brentford

    Nuno Espirito Santo Kritik Lambannya Rekrutmen Pemain Nottingham Forest Jelang Hadapi Brentford

    • calendar_month Kam, 21 Agu 2025
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Jakarta – Nottingham Forest telah merekrut empat pemain baru pada bursa transfer musim panas ini, namun pelatih Nuno Espirito Santo menilai klub seharusnya bergerak lebih cepat dalam mendatangkan tambahan amunisi sebelum Liga Inggris 2025/26 dimulai. Jelang laga pembuka melawan Brentford di City Ground pada Minggu (24/8), Nuno mengungkapkan rasa khawatirnya terhadap lambatnya proses […]

  • WhatsApp Image 2026-01-11 at 17.38.31

    Refleksi Kritis Gerakan Eksklusif Atas Nama Madura sebagai Upaya Melawan Stigma dan Penunggangan Modal di Ruang Publik

    • calendar_month Ming, 11 Jan 2026
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Jakarta – Menguatnya peran organisasi masyarakat (ormas) berbasis identitas lokal di ruang publik kembali menjadi sorotan dan perbincangan. Fenomena tersebut tidak hanya memunculkan solidaritas komunal, tetapi juga berpotensi melahirkan konflik horizontal dan stigma sosial ketika identitas digunakan secara eksklusif dan instrumental. Isu itu menjadi pokok bahasan dalam Seminar Nasional bertajuk “Ormas, Identitas Lokal […]

  • Di Hari Perumahan Nasional, Saatnya Merdeka Memiliki Rumah

    Di Hari Perumahan Nasional, Saatnya Merdeka Memiliki Rumah

    • calendar_month Sen, 25 Agu 2025
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Jakarta – Setiap tanggal 25 Agustus, Indonesia memperingati Hari Perumahan Nasional (Hapernas). Peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum strategis untuk mengingatkan pemerintah, swasta, dan masyarakat akan pentingnya hunian layak, sehat, serta terjangkau bagi seluruh rakyat Indonesia. Sejarah Hari Perumahan Nasional Hari Perumahan Nasional memiliki sejarah panjang yang berawal dari Kongres Perumahan […]

expand_less