Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Nasional » Bencana Aceh-Sumatera, Kordinator Lingkungan Uwais Thoriq: Kombinasi Kelumpuhan Ekologi, Negara yang Gagap, dan Kerusakan Sistemik

Bencana Aceh-Sumatera, Kordinator Lingkungan Uwais Thoriq: Kombinasi Kelumpuhan Ekologi, Negara yang Gagap, dan Kerusakan Sistemik

  • account_circle Azkatia
  • calendar_month Ming, 28 Des 2025

Lens IDN, Jakarta – Gelombang banjir bandang dan longsor hebat yang mengguncang Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sepanjang Desember 2025 kini telah memakan korban jiwa lebih dari 1.137 orang, dengan 163 masih hilang, (data BNPB hingga 27 Desember 2025). Jumlah tersebut belum termasuk ribuan penduduk yang luka, terluka, dan hampir setengah juta jiwa pengungsi yang masih bergulat dengan ketidakpastian hidup pascabencana.

Hingga tiga pekan lebih, sejumlah wilayah masih terisolasi. Akses jalan terputus, BBM langka dan mahal, warga yang kelaparan, minimnya listrik, tenda, serta distribusi bantuan yang jauh dari kata merata. Bahkan di Aceh, terdapat desa dilaporkan belum menerima bantuan sama sekali.

Kritik tajam datang dari Uwais Thoriq Nabhan, Kordinator Isu Lingkungan Aliansi BEM Se-Bogor Raya 2024-2025, Presiden Mahasiswa GICI Business School 2023-2024, sekaligus pemuda Kota Bogor, yang menegaskan bahwa tragedi tersebut tidak bisa lagi dipandang sebagai bencana alam semata. Menurutnya, narasi “bencana alam” justru menutup akar persoalan yang sesungguhnya.

“Ini bukan peristiwa alam yang berdiri sendiri. Perubahan iklim ini adalah hasil dari keputusan manusia dan kebijakan negara. Jadi ketika banjir bandang itu terjadi, itu bukan bencana alam, tapi akibat dari kerusakan sistemik yang dibiarkan bertahun-tahun,” “ini merupakan konsekuensi dari proses panjang erosi alam yang dipercepat oleh kebijakan yang tidak berwawasan ekologis dan governance yang gagal menjadikan keselamatan publik sebagai prioritas utama,” ujar Uwais.

Mengutip data Greenpeace Indonesia, sedikitnya ada 1.219 izin konsesi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Data tersebut, menurutnya, mempertegas bahwa ini tidak bisa dilepaskan dari aktivitas manusia. “Dengan ribuan izin konsesi itu, menyebut peristiwa ini sebagai bencana alam adalah bentuk pengaburan tanggung jawab. Ini bencana ekologis akibat kebijakan,” tegas Uwais.

“Negara harus berhenti menyederhanakan bencana sebagai sekadar ‘hujan ekstrem’ atau ‘anomaly meteorologis’. Daya tampung lingkungan & sungai di banyak wilayah Sumatera bahkan sudah turun di bawah 25 persen. Itu adalah manifestasi dari ecological mismanagement yang telah berlangsung puluhan tahun, di mana izin tambang, pembukaan perkebunan sawit, dan pelonggaran lahan hutan terus diterbitkan tanpa pemetaan risiko spasial yang kuat maupun evaluasi dampak sosial ekologis yang kredibel,” lanjut Uwais.

Kritik terhadap respons negara semakin tajam karena dua hal, yaitu Lambatnya respons awal, termasuk periode lebih dari 72 jam di mana komunikasi publik minim dan koordinasi tidak optimal, sehingga kesan pemerintah terlalu sibuk managing image ketimbang managing disaster response.

“Masalahnya bukan ketiadaan data. Yang bermasalah adalah negara seperti tidak memiliki sistem untuk menindaklanjuti early warning. Peringatan ada, tapi tidak diterjemahkan menjadi tindakan mitigasi,” katanya.

Juga penolakan status bencana nasional di awal bencana, di mana pemerintah masih menganggap kejadian sebagai kondisi darurat daerah, meskipun dampaknya merembet puluhan kabupaten-kota dan ratusan ribu jiwa warga terdampak, krusakan besar puluhan ribu rumah, fasilitas publik, sekolah, jembatan, serta infrastruktur dasar lainnya yang rusak parah atau hancur total.

Uwais juga menanggapi pernyataan Presiden Prabowo yang menyebut Indonesia tidak membutuhkan bantuan asing. Ujar Uwais, “Kedaulatan tidak diukur dari menolak bantuan, tapi dari kemampuan negara menyelamatkan warganya. Jika rakyat masih terisolasi dan kelaparan, maka yang bermasalah adalah kapasitas negara itu sendiri.”

Uwais lalu secara khusus mengkritik rezim terkait regulasi dan perizinan yang selama ini justru memperparah degradasi ekologis. “Negara telah mengadopsi rezim perizinan yang mengakomodasi kepentingan modal tanpa memprioritaskan risiko ekologis jangka panjang. Ketika prinsip precautionary approach dan ecosystem-based management diabaikan demi pergulatan ekonomi semata, hasilnya bukan sekadar bencana alam, tetapi bencana yang terinduktrikalkan.”

Uwais mengkritik kerangka pelonggaran standar dan pengawasan yang semakin dilemahkan, kelemahan sistem pemetaan risiko spasial dalam perizinan, ketidaktegasan dalam penegakan hukum terhadap pelanggaran izin lingkungan. Ia juga menyoroti perubahan UU PPLH serta UU Kehutanan, termasuk penghapusan batas minimal tutupan hutan DAS dan pelemahan AMDAL serta izin lingkungan. Ia juga menyinggung kebijakan pemutihan sawit ilegal di kawasan hutan melalui Pasal 110A dan 110B UU Cipta Kerja.

“Ada sekitar lebih dari 3 juta hektare sawit ilegal di kawasan hutan yang seharusnya dipulihkan dan mendapatkan penegakan hukum justru dilegalkan. Ini memperparah kerusakan, terutama di Sumatera. Negara bukan hanya lalai, tapi negara aktif melegitimasi pelanggaran,” tegas Uwais.

Mengacu pada kompleksitas peristiwa, mulai dari aspek ekologis, kebijakan izin, mitigasi bencana, hingga respons lapangan yang lambat, Uwais menuntut tindakan konkret dan struktural dari negara berupa penetapan status bencana nasional, audit ekologis independen terhadap seluruh izin korporasi di wilayah hulu DAS, Revitalisasi tata ruang nasional berbasis risk mapping dan pendekatan ecosystem-based disaster risk reduction, penegakan hukum yang tegas terhadap pelanggaran lingkungan dan korporasi yang gagal memenuhi prinsip ESG dalam setiap izin, juga percepatan distribusi logistik, pemulihan infrastruktur dasar, serta jaminan layanan kesehatan, sanitasi, dan kebutuhan pokok bagi pengungsi dan warga terdampak.

“Evaluasi harus berbasis pada ekologis, bukan berbasis politik. Setelah itu izin yang melampaui aturan harus dicabut dan dipulihkan. Kalau hanya dicabut tanpa pemulihan, itu omong kosong,” lanjut Uwais.

Ia juga mendorong pengetatan investasi berbasis lahan serta peralihan menuju model ekonomi yang tidak merusak lingkungan. “Kalau sumber masalahnya tidak dihentikan, negara hanya akan terus mengeluarkan anggaran besar untuk bencana yang sama. Ini bukan solusi, ini lingkaran kegagalan,” pungkas Uwais.

Meskipun kritiknya tajam, Uwais menyerukan solidaritas kolektif kepada seluruh elemen masyarakat. “Kita harus saling membantu, karena negara mungkin lambat, tetapi empati sosial kita tak boleh ikut terendam.

Bencana ini, bagi Uwais, adalah panggilan keras terhadap negara untuk berubah, berbenah, dan mengambil keputusan yang berorientasi pada keselamatan publik dan keberlanjutan ekologis, bukan semata pertumbuhan ekonomi yang mengorbankan keselamatan rakyat.

  • Penulis: Azkatia

Rekomendasi Untuk Anda

  • WhatsApp Image 2025-10-23 at 15.40.25

    Paket Stimulus Dorong Daya Beli dan Perluas Lapangan Kerja

    • calendar_month Kam, 23 Okt 2025
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Jakarta — Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Neng Eem Marhamah Zulfa, menilai bahwa paket stimulus ekonomi yang saat ini dijalankan pemerintah merupakan langkah strategis dan tepat sasaran dalam menjawab kebutuhan masyarakat. “Paket stimulus ini merupakan program yang sangat baik dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat saat ini. Menurut saya, […]

  • WhatsApp Image 2026-10-03 at 20.11.14

    Lapas Narkotika Nusakambangan Perkuat Tata Kelola BMN Secara Akuntabel

    • calendar_month 11 jam yang lalu
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Nusakambangan – Upaya memperkuat tata kelola Barang Milik Negara (BMN) terus dilakukan Lapas Narkotika Kelas IIA Nusakambangan. Salah satunya melalui kegiatan inventarisasi aset yang dilaksanakan pada Kamis (1/10). Inventarisasi dilakukan untuk memastikan aset negara yang berada dalam pengelolaan lapas tercatat secara tepat dan memiliki identitas yang jelas. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari […]

  • FB_IMG_1781701098272

    Juctice Collaborator dalam Kasus Dugaan Korupsi BGN

    • calendar_month Rab, 17 Jun 2026
    • account_circle Devina
    • 0Komentar

    Lens IDN, Kolom – Pengajuan Justice Collaborator (JC) dalam kasus dugaan korupsi di lingkungan Badan Gizi Nasional (BGN) tidak dapat dilihat semata-mata sebagai hak tersangka, melainkan sebagai instrumen hukum luar biasa (extraordinary measure) untuk mengungkap tindak pidana korupsi yang bersifat sistemik dan melibatkan lebih dari satu pelaku. Oleh karena itu, pertanyaan utama yang harus dijawab […]

  • ChatGPT Image Jun 3, 2026, 11_38_52 AM

    Vitinha dan João Neves Pecahkan Rekor Cristiano Ronaldo, Jadi Pemain Portugal Termahal dalam Sejarah Transfermarkt

    • calendar_month Rab, 3 Jun 2026
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Jakarta – Dua bintang muda Portugal, Vitinha dan João Neves, kembali mencuri perhatian dunia sepak bola setelah pembaruan nilai pasar terbaru Ligue 1 yang dirilis oleh Transfermarkt. Keduanya tercatat mengalami lonjakan nilai pasar yang sangat signifikan, masing-masing sebesar 30 juta euro, sehingga kini memiliki nilai pasar fantastis sebesar 140 juta euro. Pencapaian tersebut […]

  • Presiden Prabowo Subianto

    Komisi I Nilai Pidato Presiden Prabowo Tegaskan Arah Pertahanan dan Diplomasi Indonesia

    • calendar_month Sab, 16 Agu 2025
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Jakarta– Anggota Komisi I DPR RI, Syamsu Rizal MI atau yang akrab disapa Deng Ical, memberikan apresiasi terhadap Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR RI 2025. Ia menilai, pidato tersebut memberikan arah strategis bagi bangsa dalam memperkuat kedaulatan nasional sekaligus meningkatkan peran Indonesia di panggung internasional. “Atas nama Komisi I […]

  • Econ dan Imajinasi Salurkan Bantuan 100 Al-Qur’an dan Alat Tulis ke Sekolah Pelosok Tahap Awal

    Econ dan Imajinasi Salurkan Bantuan 100 Al-Qur’an dan Alat Tulis ke Sekolah Pelosok Tahap Awal

    • calendar_month Sel, 7 Okt 2025
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Sidoarjo — Platform Econ berkolaborasi dengan Imajinasi kembali menebar kebaikan melalui kegiatan sosial bertajuk “Serpihan Mimpi Mini Project.” Program ini merupakan lanjutan dari gerakan Serpihan Mimpi sebelumnya yang telah dikenal karena kepeduliannya terhadap pendidikan dan bantuan langsung ke daerah-daerah pelosok Indonesia. Pada tahap awal kali ini, tim Econ dan Imajinasi menyalurkan 100 Al-Qur’an […]

expand_less