Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Pembangkangan Konstitusi: Kudeta Sunyi atas Kedaulatan Rakyat

Pembangkangan Konstitusi: Kudeta Sunyi atas Kedaulatan Rakyat

  • account_circle Devina
  • calendar_month Sel, 13 Jan 2026

“Pemilihan pejabat oleh DPRD bukan langkah maju. Bukan pendewasaan demokrasi. Bukan solusi konflik. Ini Adalah pembangkangan terhadap konstitusi,” Mohammad Rifqi.

Lens IDN, Opini – Konstitusi membuka dengan kalimat agung “Kedaulatan berada di tangan rakyat.” Namun dalam praktik politik mutakhir, kalimat itu tampaknya perlu direvisi menjadi “Kedaulatan berada ditangan rakyat selagi tidak merepotkan elite.”

Wacana pemilihan pejabat publik oleh DPRD kembali mengemuka sebagai alternatif atas mekanisme pemilihan langsung. Argumentasi yang kerap diajukan mencakup efisiensi anggaran, stabilitas politik, dan pencegahan konflik horizontal. Namun dibalik rasionalisasi tersebut, terdapat persoalan mendasar yang patut dikritisi: menyempitnya ruang kedaulatan rakyat dan menguatnya politik transaksional ditingkat elite.

Jika dulu pemimpin harus turun ke pasar, ke sawah, ke kampung, kini cukup turun satu lantai – ke ruang fraksi. Jika dulu harus menjawab pertanyaan rakyat, kini cukup menjawab undangan rapat. Jika dulu legitimasi lahir dari bilik suara, kini cukup dari ketukan palu pimpinan sidang. Lebih cepat, lebih sunyi, dan lebih terkendali.

Secara hukum semua tampak rapi. Ada undang-undang, ada tata tertib, ada forum resmi. Secara konstitusional, negara tetap menyebut dirinya demokratis. Tetapi secara substansi, maknanya telah diperas. Pasal 28D ayat (2) UUD 1945 “Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan,” kesempatan yang sama itu kini diterjemahkan secara kreatif “Suara rakyat terlalu berisik, diganti dengan bisikan elite.”

Dalam sistem pemilihan tidak langsung, legitimasi kekuasaan tidak lagi bersumber dari partisipasi luas warga negara, melainkan dari keputusan segelintir aktor politik di lembaga perwakilan. Perubahan ini bukan sekadar teknis prosedural, tetapi menyentuh jantung demokrasi itu sendiri, yaitu prinsip bahwa kekuasaan berasal dari rakyat.

Pemilihan oleh DPRD menggeser kontestasi politik dari arena publik ke ruang tertutup. Kompetisi gagasan, rekam jejak, dan program kerja yang semestinya diuji dihadapan pemilih, berubah menjadi proses lobi dan negosiasi antar elite. Dalam konteks ini, aktor politik tidak lagi berkepentingan membangun kepercayaan publik, melainkan membangun kesepakatan internal dengan fraksi-fraksi legislatif.

Situasi tersebut menciptakan ekosistem yang kondusif bagi tumbuhnya oportunisme politik. Perantara kekuasaan, broker politik, dan jaringan kepentingan. Memperoleh posisi strategis sebagai penghubung antara calon pejabat dan anggota legislatif. Dukungan politik tidak diproduksi melalui persuasi ideologis, melainkan melalui kalkulasi untung-rugi yang bersifat pragmatis. Akibatnya, politik kehilangan dimensi etikanya dan direduksi menjadi aktivitas transaksional.

Ini Bukan Reformasi, Ini Pembangkangan

Undang-Undang Pilkada memang pernah membuka ruang pemilihan langsung sebagai koreksi atas praktik politik tertutup masa lalu. Tujuannya jelas: memperkuat partisipasi publik, legitimasi, dan akuntabilitas pemimpin daerah. Namun kini, sejarah seolah diputar ulang dengan kemasan baru.

Pemilihan oleh DPRD dijual sebagai solusi konflik dan penghematan anggaran. Seolah-olah masalah demokrasi adalah rakyat yang terlalu banyak, bukan elite yang terlalu rakus. Ironisnya, negara hukum dibanggakan, tetapi prinsip good governance perlahan dipreteli, yang tersisa hanya legalitas tanpa etika.

Pejabat yang lahir dari DPRD bukanlah pemimpin yang berdiri di atas mandat publik, melainkan manajer utang politik. Ia tidak menghitung suara rakyat, tetapi menghitung fraksi. Ia tidak takut kehilangan kepercayaan publik, tetapi takut kehilangan dukungan parlemen. Maka jangan heran jika kebijakan lebih rajin menyapa ruang rapat daripada ruang kelas, lebih akrab dengan proyek daripada penderitaan, lebih peduli pada stabilitas koalisi daripada keadilan sosial.

Pada akhirnya, pemilihan oleh DPRD bukan sekadar perubahan mekanisme, melainkan perubahan arah: dari demokrasi partisipatif menuju demokrasi elitis; dari kedaulatan rakyat menuju kedaulatan negosiasi. Pemerintahan hanya akan menjadi hasil kompromi elite – stabil dipermukaan, rapuh dalam kepercayaan, dan miskin dalam keadilan politik.

Dan jika rakyat menerima ini sebagai hal biasa, maka yang mati bukan hanya demokrasi tetapi harga diri politik sebagai warga negara.

 

*) Penulis adalah Mohammad Rifqi, Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

  • Penulis: Devina

Rekomendasi Untuk Anda

  • medium_IMG_20261012_WA_0018_9b54e5b1fe

    Forum REDD+ di Bali Bahas Pendanaan Iklim dan Restorasi Mangrove

    • calendar_month Sen, 12 Okt 2026
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Bali – Forum regional REDD+ Community of Practice Regional Meeting for Asia-Pacific Countries di Bali menjadi ajang bagi negara-negara Asia-Pasifik untuk membahas penguatan pendanaan iklim, tata kelola kehutanan, serta restorasi ekosistem pesisir. Pertemuan yang dibuka pada Senin (12/10/2026) tersebut diselenggarakan oleh Kementerian Kehutanan Republik Indonesia bersama Sekretariat Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan […]

  • WhatsApp Image 2025-12-08 at 19.45.55

    Kopi Enrekang Tembus Pasar Global, UMKM Binaan Bank Indonesia Go Internasional

    • calendar_month Sen, 8 Des 2025
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Enrekang – Produk kopi lokal asal Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, kembali menorehkan prestasi membanggakan. Kopi arabika Enrekang sukses menembus pasar internasional melalui tangan dingin pelaku usaha muda, Muh Irwin, pemilik merek My Coffeeza. Keberhasilan ini tidak lepas dari peran strategis Bank Indonesia (BI) melalui berbagai program pembinaan UMKM berorientasi ekspor. Irwin menuturkan, usaha […]

  • IMG-20261008-WA0008

    Bung Kristeva Ungkap Tiga Fase Pemikiran Gerakan PMII

    • calendar_month Kam, 8 Okt 2026
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Yogyakarta – Akademisi Nur Sayyid Santoso Kristeva, M.A. atau Bung Kristeva menguraikan perkembangan pemikiran gerakan dalam agenda Pelatihan Kader Lanjut (PKL) yang digelar Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) D.I. Yogyakarta. Dalam sesi bertema “Genealogi Paradigma PMII dan Relevansinya Terhadap Perkembangan Zaman”, Bung Kristeva mengajak peserta memahami perjalanan paradigma organisasi sekaligus […]

  • WhatsApp Image 2025-10-23 at 15.40.25

    Paket Stimulus Dorong Daya Beli dan Perluas Lapangan Kerja

    • calendar_month Kam, 23 Okt 2025
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Jakarta — Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Neng Eem Marhamah Zulfa, menilai bahwa paket stimulus ekonomi yang saat ini dijalankan pemerintah merupakan langkah strategis dan tepat sasaran dalam menjawab kebutuhan masyarakat. “Paket stimulus ini merupakan program yang sangat baik dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat saat ini. Menurut saya, […]

  • FORSIKATEL

    FORSIKATEL Telkom Group Witel Jatim Timur Berbagi di TESA Baksos Dusun Kepetingan Sidoarjo

    • calendar_month Sel, 26 Agu 2025
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Sidoarjo – Forum Silaturahmi Istri Karyawan Telkom (FORSIKATEL) Telkom Group Witel Jatim Timur turut berpartisipasi dalam kegiatan Telkom Employee Social Activity (TESA) Bakti Sosial yang digelar di Dusun Kepetingan, Sidoarjo (13/8). Kegiatan ini dipimpin langsung Ketua Ibu Heni Samsurizal Aruni. Pada aksi sosial tersebut, FORSIKATEL mendistribusikan barang layak pakai kepada warga, memberikan santunan […]

  • IMG-20260508-WA0042

    Program Studi Ekonomi Syariah FEBI Dorong Transparansi Wakaf melalui Pelatihan Keuangan Syariah

    • calendar_month Sel, 4 Okt 2022
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Pendidikan – Program Studi Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Pelatihan Pengelolaan Administrasi dan Pelaporan Keuangan Wakaf di Lembaga Zakat” pada Selasa, 4 Oktober 2022. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk kontribusi akademik dalam meningkatkan kapasitas pengelolaan administrasi dan pelaporan keuangan wakaf yang profesional, transparan, dan […]

expand_less