Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Konklusi Problematika Indonesia dari Bung Hatta

Konklusi Problematika Indonesia dari Bung Hatta

  • account_circle Devina
  • calendar_month Sen, 23 Feb 2026

Lens IDN, Kolom – Teruntuk pahlawan saya, Muhammad Hatta. Saya mengucapkan rasa syukur tiada batasnya atas tercapainya sebuah cita-cita yang telah lama diimpikan oleh para leluhur kita, yakni dengan terbebasnya kita dari penjajahan kolonialisme dan berdirinya sebuah negara kesatuan yang berdaulat di seluruh Nusantara. Tidak lupa pula saya juga berterimakasih sebesar-besarnya kepada tiap-tiap pahlawan, baik yang dikenal namanya maupun yang tidak diketahui rimbanya, yang telah berjuang dan mendedikasikan hidupnya demi kemerdekaan kita, bangsa Indonesia.

Hanya saja perjalanan ini belum usai; semangat perjuangan secara estafet terus-menerus diturunkan dari generasi ke generasi hingaa saat ini. Anda pernah mengajarkan bahwa demi terbebas dari segala bentuk penjajahan, maka perlulah adanya kesadaran berbangsa dalam beberapa poin. Pertama, persatuan Indonesia. Kedua, kebersamaan dalam masyarakat. Ketiga, kepercayaan diri sendiri (Deliar Noer, Biografi Politik Mohammad Hatta dan Pemikirannya, Jilid 1, 1990).

Jika saya diminta menggambarkan situasi sekarang, maka saya bisa tinggal mencetak ulang tulisan Anda pada tahun 1962, yaitu “Dimana-mana orang merasa tidak puas. Pembangunan tidak berjalan sebagaimana semestinya. Kemakmuran rakyat masih jauh dari cita-cita, sedangkan nilai uang semakin merosot. Perkembangan demokrasipun terlantar karena percekcokan senantiasa. Pelaksanaan otonomi daerah terlalu lamban hingga memicu pergolakan daerah.” (Hatta: Jejak yang Melampaui Zaman, 2010) Hampir tidak ada yang perlu diubah kalimat demi kalimat dan kata demi kata. Berbagai krisis serupa kembali terjadi dan terus menghantui Indonesia lagi, bahkan di umurnya yang hampir genap satu abad. Dalam pandangan saya, berbagai persoalan yang muncul bermul pada satu hal yang paling krusial, yakni degradasi dan dekadensi moral hingga membuat sebagian dari kami tumbuh dengan karakter “nakal”. Pecandu eksistensi semu di dunia maya maupun di dunia nyata.

Kami, para pemuda, yang seharusnya menjadi tumpuan masa depan malah berperilaku yang mengundang rasa pesimis memupus harapan. Bukan menutup mata pada beberapa dari kami yang membanggakan, tetapi dengan melihat kondisi kenyataan saat ini, cukup riskan dan mengkhawatirkan. Melewati ambang batas aman. Memprihatinkan. Selain itu, ada juga beberapa dari kami yang termasuk dari orang-orang yang pernah Anda kecam di Koran Daulat Ra’jat pada 31 Januari 1928, yaitu “Menamakan diri Nasionalis Indonesia, akan tetapi pergaulannya dan semangatnya masih amat terikat kepada daerah dan tempat dilahirkan.” (Hatta: Jejak yang Melampaui Zaman, 2010)

Kata Pepatah, tidak ada yang baru di kolong langit. Sejarah adalah repitisi pengalaman-pengalaman yang dilakoni oleh orang banyak. Bila hari ini atau hari esok Indonesia terperosok jatuh secara telak ke dalam lubang yang sama, mungkin saja hal itu dikarenakan bangsa kita tidak benar-benar belajar dari sejarah yang ada. Mungkin juga dikarenakan bangsa kita tidak benar-benar menanggulangi kesalahan yang pernah terjadi.

Sejarah bagaikan misteri dan selalu membuat saya takjub. Dari sejarah saya dapat mengetahui Anda, sang orator besar, seperti halnya Soekarno. Akan tetapi, bukan lewat pidato dengan suara bariton yang penuh wibawa, melainkan lewat tulisan-tulisan yang tajam dan mengagumkan. Dari Andalah saya tahu bahwa jasa militer dalam memerdekakan Indonesia lewat perjuangan senjata adalah yang paling besar merupakan mitos belaka. Anda mengikuti perjuangan tanpa kekerasan ala Mahatma Gandhi. Ketajaman dan kekuatan analisislah yang justru lebih digdaya daripada tembakan peluru mana pun (Hatta: Jejak yang Melampaui Zaman, 2010).

Bahkan, meski Anda ditahan pada 1927 akibat tulisan-tulisan yang tajam mengkritik kolonial, Anda sama sekali tidak mundur. Di dalam ruang penjara yang sempit, Anda menulis pidato pembelaan yang dibacakan oleh Anda sendiri selama tiga setengah jam di depan pengadilan. Dengan judul “Indonesia Vrij” (Indonesia Merdeka), Anda menciptakan momen manifesto politik yang menumental. Menikam dengan tenang, persis di ulu hati kekuasaan pemerintah kolonial Belanda. Di hadapan Mahkamah Den Haag, Anda menutup pleidoi dengan ucapan yang menggetarkan ruang persidangan, “Hanya satu tanah air yang dapat disebut Tanah Airku. Ia berkembang dengan usaha, dan usaha itu ialah usahaku.” (Hatta: Jejak yang Melampaui Zaman, 2010)

Dari diri Andalah saya terinspirasi untuk selalu optimis dan berusaha menjadi juga mempersiapkan generasi emas yang potensial, kreatif, visioner, dan handal. Penuh rasa percaya diri, persatuan, solidaritas, dan kuat mental. Generasi yang tidak mudah menyerah meski banyak aral terjal. Out of the box dalam berpikir dan menghasilkan langkah-langkah strategis dan sensasional untuk Indonesia emas yang lebih cerah.

 

*) Penulis adalah Affan Abdallah AM, Civitas Akademika Universitas Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep dan Aktivis Forum Lingkar Pena Ranting Banyuanyar.

  • Penulis: Devina

Rekomendasi Untuk Anda

  • 681936634_1553363793460118_6714514346149256781_n

    Patrick Vieira Kritik Keras Kandidat PFA: Bruno Fernandes Dinilai Tak Layak Menang

    • calendar_month Rab, 29 Apr 2026
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Jakarta – Legenda Arsenal, Patrick Vieira, melontarkan kritik tajam terhadap dukungan yang mengarah kepada Bruno Fernandes dalam perburuan penghargaan PFA Player of the Year. Vieira menilai, gelandang Manchester United tersebut tidak pantas menjadi pemenang jika melihat kontribusi secara lebih mendalam. Dalam pernyataannya, Vieira menyoroti statistik assist Bruno Fernandes yang kerap dijadikan alasan utama […]

  • WhatsApp Image 2026-08-23 at 17.59.30 (1)

    Mahasiswa Maluku Utara di Yogyakarta Soroti Ketimpangan Pusat-Daerah, Wacanakan Federalisme

    • calendar_month Ming, 23 Agu 2026
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Yogyakarta — Keresahan terhadap hubungan pemerintah pusat dan daerah yang dinilai belum sepenuhnya menghadirkan keadilan mendorong mahasiswa asal Maluku Utara di Yogyakarta menggelar forum diskusi terbuka. Forum bertajuk “Menuju Negara Federal atau Tetap Dijajah Sentralistik” tersebut berlangsung pada Sabtu, 22 Agustus 2026. Forum yang diikuti kalangan intelektual muda Maluku Utara itu menjadi ruang […]

  • Pertanian

    Harapan dan Tantangan Pertanian Masa Depan Kecerdasan Buatan

    • calendar_month Sel, 5 Mei 2026
    • account_circle Devina
    • 0Komentar

    Lens IDN, Kolom – Bayangkan seorang petani di pelosok Kalimantan yang tidak perlu lagi bangun subuh untuk memeriksa kelembapan tanah atau kadar CO₂ di dalam greenhouse-nya. Sebuah perangkat kecil seukuran telapak tangan  tertancap di sudut kebun, secara otomatis membaca kondisi lingkungan, memproses data, dan mengaktifkan sistem irigasi tanpa menunggu perintah manusia. Inilah janji besar dari apa […]

  • IMG-20251112-WA0022

    Indonesia Tawarkan Model Kerukunan Dunia Lewat Program Indonesian Interfaith Scholarship 2025

    • calendar_month Rab, 12 Nov 2025
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Jakarta — Indonesia kembali memperkuat perannya sebagai pusat inspirasi kerukunan dunia melalui program Indonesian Interfaith Scholarship (IIS) 2025 yang digelar oleh Kementerian Agama RI bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri RI. Program ini menghadirkan sepuluh tokoh lintas agama dan kebudayaan dari Austria untuk mempelajari langsung praktik hidup rukun di tengah keberagaman Indonesia. Mengusung […]

  • 99 Pengurus Daerah Se-Indonesia Siap Dukung Amri Akbar, Harapan Baru KAMMI Pusat

    99 Pengurus Daerah Se-Indonesia Siap Dukung Amri Akbar, Harapan Baru KAMMI Pusat

    • calendar_month Jum, 29 Agu 2025
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Jakarta – Penanggung Jawab (PJ) Ketua Umum Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PP KAMMI), M. Amri Akbar, disebut sebagai harapan baru bagi kader KAMMI di seluruh Indonesia. Dukungan itu datang dari puluhan Ketua Pengurus Daerah (PD) di berbagai wilayah. Muhammad Imran, anggota Pengurus Pusat KAMMI, saat dihubungi media menyampaikan bahwa sudah […]

  • kkkkm

    Cegah Perundungan Sejak Dini, Tim KKN Untidar Gelar Edukasi Karakter di SDN Tidar 3

    • calendar_month Sab, 10 Jan 2026
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Magelang – Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Tidar (Untidar) Kelurahan Tidar Selatan Periode Januari-Februari 2026 menyelenggarakan kegiatan sosialisasi dan edukasi mengenai Pendidikan Karakter dan Bahaya Bullying (perundungan) di SDN Tidar 3, Kota Magelang, pada Jumat (9/1/2026). Kegiatan yang berlangsung di halaman sekolah mulai pukul 07.00 hingga 09.30 WIB ini diikuti dengan antusias […]

expand_less