Plot Twist: Bahagia Itu Skill, Bukan Bawaan Lahir
- account_circle Devina
- calendar_month 19 jam yang lalu

Ilustrasi - (Foto: Dok/Ist).
Lens IDN, Kolom – Ada satu pertanyaan sederhana yang sering kita hindari: sebenarnya, apakah kita bisa belajar menjadi bahagia?
Pertanyaan ini terdengar seperti materi seminar motivasi. Bahkan, ketika mendengar ada kelas kuliah yang khusus membahas kebahagiaan, sebagian orang mungkin langsung membayangkan ruangan penuh kutipan inspiratif, senyum lebar, dan nasihat agar selalu berpikir positif.
Namun, bagaimana jika kelas semacam itu justru lahir dari lingkungan akademik bergengsi?
Di Harvard, pernah ada mata kuliah yang membahas psikologi positif dan kebahagiaan, Psychology 1504 – Positive Psychology, yang diajarkan Tal Ben-Shahar. Kelas tersebut sempat menjadi salah satu mata kuliah yang sangat diminati mahasiswa. Materinya tidak sekadar mengajak mahasiswa “berpikir positif”, tetapi membahas berbagai aspek kehidupan manusia, mulai dari empati, persahabatan, cinta, kreativitas, pencapaian, spiritualitas, hingga kebahagiaan.
Di titik inilah saya kira ada sesuatu yang menarik untuk direnungkan.
Mungkin bahagia memang bukan sekadar keberuntungan. Tetapi apakah bahagia benar-benar sebuah keterampilan?
Jawabannya tidak sesederhana unggahan media sosial yang sering kita lihat.
Bahagia Bukan Sekadar Punya Lebih Banyak
Kita hidup dalam budaya yang sering mengajarkan bahwa kebahagiaan berada di ujung pencapaian.
- Dapat pekerjaan bagus, bahagia.
- Naik gaji, bahagia.
- Punya rumah, bahagia.
- Lulus kuliah, bahagia.
- Mendapat jabatan, bahagia.
- Memiliki pasangan, bahagia.
Masalahnya, setelah semua itu tercapai, mengapa rasa bahagia sering kali tidak bertahan selama yang kita bayangkan?
Di sinilah konsep hedonic adaptation menjadi relevan. Manusia cenderung beradaptasi dengan perubahan positif dalam hidup. Sesuatu yang awalnya terasa luar biasa perlahan berubah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Mobil baru yang dulu membuat kita bersemangat akhirnya menjadi kendaraan biasa.
Gaji yang dulu terasa besar perlahan terasa normal.
Rumah impian yang dulu membuat kita tidak sabar pulang akhirnya menjadi tempat tinggal sehari-hari.
Bukan berarti pencapaian tersebut tidak penting. Justru sebaliknya, pencapaian dapat memberikan kepuasan dan meningkatkan kualitas hidup. Tetapi menggantungkan seluruh kebahagiaan pada pencapaian eksternal membuat kita terus mengejar garis finish yang selalu bergerak.
Begitu satu target tercapai, target berikutnya muncul.
Dan begitu seterusnya.
Kita akhirnya sibuk mengejar kehidupan yang kita pikir akan membuat bahagia, tetapi lupa mengalami kehidupan yang sedang dijalani.
Apakah Kebahagiaan Sudah Ditentukan Sejak Lahir?
Salah satu gagasan yang populer dalam psikologi positif adalah model “happiness pie” yang diperkenalkan Sonja Lyubomirsky, Kennon Sheldon, dan David Schkade pada 2005.
Model tersebut sering diringkas menjadi angka 50-10-40: sekitar 50 persen dikaitkan dengan faktor genetik, 10 persen dengan kondisi kehidupan, dan 40 persen dengan aktivitas yang disengaja.
Angka 40 persen kemudian menjadi sangat populer karena memberikan pesan yang terdengar membebaskan: sebagian kebahagiaan berada dalam ruang yang dapat dipengaruhi oleh kebiasaan dan pilihan kita.
Tetapi di sinilah kita perlu berhenti sejenak.
Model tersebut tidak seharusnya diperlakukan seperti rumus matematika yang dapat menghitung persis berapa persen kebahagiaan seseorang berasal dari genetika atau perilaku.
Penelitian dan kritik berikutnya menunjukkan bahwa faktor genetik, lingkungan, pengalaman hidup, hubungan sosial, dan perilaku manusia saling berinteraksi. Membagi kebahagiaan ke dalam tiga potongan yang benar-benar terpisah terlalu sederhana untuk menggambarkan kompleksitas manusia.
Artinya, kita perlu mengambil pesan yang lebih masuk akal dari teori tersebut.
Bukan bahwa “40 persen kebahagiaan ada di tangan kita”.
Melainkan bahwa ada bagian dari kesejahteraan yang dapat dipengaruhi melalui kebiasaan dan tindakan yang kita lakukan secara sadar.
Dan menurut saya, perbedaan kecil dalam cara memahami teori ini sangat penting.
Sebab kalau kita percaya kebahagiaan sepenuhnya berada di tangan kita, kita berisiko menyalahkan orang yang sedang tidak bahagia.
- Seolah-olah mereka kurang bersyukur.
- Kurang berpikir positif.
- Kurang berusaha.
- Padahal kehidupan tidak bekerja sesederhana itu.
Bersyukur Bukan Berarti Menyangkal Masalah
Salah satu praktik yang cukup banyak diteliti dalam psikologi positif adalah rasa syukur.
Penelitian Robert Emmons dan Michael McCullough pada 2003 menunjukkan bahwa latihan mencatat hal-hal yang disyukuri berkaitan dengan sejumlah indikator kesejahteraan yang lebih positif dibandingkan kelompok yang mencatat hal-hal yang mengganggu atau merepotkan mereka.
Ini menarik karena rasa syukur sering dianggap sebagai nasihat klise.
“Syukuri saja apa yang ada.”
Kalimat tersebut bisa terdengar menjengkelkan ketika seseorang sedang menghadapi persoalan serius.
Namun, praktik bersyukur dalam konteks psikologi positif sebenarnya tidak harus berarti menyangkal masalah.
Kita masih bisa kecewa sekaligus bersyukur.
Kita bisa sedih sekaligus menemukan sesuatu yang berarti.
Kita bisa mengakui bahwa hidup sedang berat tanpa harus berpura-pura semuanya baik-baik saja.
Bersyukur bukan berarti mengatakan, “Hidup saya sempurna.”
Bersyukur lebih dekat dengan kemampuan mengatakan, “Di tengah hidup yang tidak sempurna ini, masih ada sesuatu yang layak saya hargai.”
Dan mungkin justru di situlah kekuatannya.
Bahagia Mungkin Lebih Dekat dengan Kebiasaan daripada Keberuntungan
Kalau kebahagiaan tidak sepenuhnya ditentukan oleh kondisi eksternal, lalu apa yang bisa dilakukan?
Jawabannya ternyata tidak terlalu spektakuler.
Menjaga hubungan dengan orang lain.
Meluangkan waktu untuk hal yang bermakna.
Menghargai pencapaian kecil.
Berlatih bersyukur.
Berhenti membandingkan diri secara terus-menerus.
Memberikan perhatian pada aktivitas yang sedang dijalani.
Istirahat ketika tubuh dan pikiran membutuhkannya.
Tidak semuanya terdengar seperti resep revolusioner.
Justru itu masalahnya.
Kita sering mengharapkan kebahagiaan datang dalam bentuk sesuatu yang besar. Padahal, kesejahteraan psikologis bisa dibangun melalui tindakan kecil yang dilakukan berulang kali.
Seperti kemampuan bermain alat musik, berolahraga, atau mempelajari bahasa baru, kebiasaan tertentu membutuhkan latihan.
Bukan sekali dilakukan lalu hidup berubah.
Melainkan sedikit demi sedikit.
Kita Tidak Harus Selalu Bahagia
Ada satu hal yang menurut saya perlu ditambahkan dalam pembicaraan mengenai “belajar bahagia”.
Kita tidak harus selalu bahagia.
Kesedihan adalah bagian dari pengalaman manusia.
Kecewa juga.
Marah, takut, kehilangan, dan merasa gagal juga.
Jika kebahagiaan dianggap sebagai kondisi yang harus dipertahankan 24 jam sehari, kita justru menciptakan tekanan baru: ketika sedih, kita merasa gagal menjadi bahagia.
Padahal, kemampuan menjalani emosi yang tidak menyenangkan juga merupakan bagian dari kesehatan psikologis.
Karena itu, belajar bahagia seharusnya tidak dimaknai sebagai belajar menghilangkan kesedihan.
Lebih tepat jika dimaknai sebagai belajar membangun kehidupan yang tetap memiliki makna, hubungan, dan ruang untuk hal-hal positif meskipun masalah tetap ada.
Dari “Mengejar Bahagia” Menjadi “Menjalani Hidup”
Mungkin inilah plot twist sebenarnya.
Kita terlalu sering bertanya:
“Apa yang harus saya dapatkan supaya saya bahagia?”
Padahal pertanyaan yang mungkin lebih berguna adalah:
“Bagaimana saya ingin menjalani kehidupan saya hari ini?”
Perbedaannya tampak kecil, tetapi dampaknya bisa besar.
Pertanyaan pertama membuat kebahagiaan berada di masa depan.
- Setelah punya pekerjaan impian.
- Setelah menikah.
- Setelah punya rumah.
- Setelah memiliki uang lebih banyak.
- Setelah mencapai target tertentu.
Sementara pertanyaan kedua membawa perhatian kembali pada kehidupan yang sedang berlangsung.
- Bagaimana saya memperlakukan orang-orang yang saya sayangi?
- Apakah saya menyediakan waktu untuk hal yang penting bagi saya?
- Apakah saya menikmati proses atau hanya menunggu hasil?
- Apakah saya memberi ruang untuk beristirahat?
- Apakah saya menyadari hal-hal baik yang sebenarnya sudah ada?
Mungkin kita tidak bisa mengontrol seluruh keadaan hidup. Kita juga tidak memilih semua faktor biologis dan lingkungan yang membentuk diri kita.
Tetapi kita masih memiliki ruang untuk berlatih.
Berlatih memperhatikan.
Berlatih bersyukur.
Berlatih membangun hubungan.
Berlatih menikmati proses.
Berlatih menerima bahwa tidak semua hari harus terasa menyenangkan.
Bahagia Bukan Bakat, tetapi Juga Bukan Tanggung Jawab Sendirian
Jadi, apakah bahagia itu skill?
Saya cenderung melihatnya sebagai kemampuan yang sebagian dapat dilatih, bukan bakat yang sepenuhnya dibawa sejak lahir dan bukan pula tanggung jawab pribadi yang harus kita kuasai sendirian.
Riset psikologi positif memberikan alasan untuk percaya bahwa sejumlah kebiasaan dapat membantu meningkatkan kesejahteraan. Tetapi riset yang sama juga mengingatkan kita bahwa manusia terlalu kompleks untuk diringkas dalam satu formula kebahagiaan.
Kita tidak perlu mencari resep ajaib.
Tidak perlu memaksa diri selalu positif.
Dan tidak perlu merasa bersalah ketika suatu hari kita tidak bahagia.
Mungkin yang perlu kita lakukan justru lebih sederhana: membangun kebiasaan kecil yang membuat kehidupan terasa lebih bermakna.
Satu percakapan yang tulus.
Satu halaman jurnal syukur.
Satu waktu untuk orang yang kita cintai.
Satu aktivitas yang benar-benar kita nikmati.
Satu keputusan untuk berhenti mengejar garis finish dan mulai memperhatikan perjalanan.
Karena pada akhirnya, mungkin kebahagiaan bukanlah tempat yang harus kita capai.
Ia adalah keterampilan menjalani perjalanan. Dan seperti keterampilan lainnya, kita bisa terus belajar.
*) Penulis adalah Laurencia Vicky Siswanto, Mahasiswa Fakultas Psikologi, Program Studi Magister Psikologi, Universitas Katolik Soegijapranata (SCU).
Sumber Referensi
Ben-Shahar, T. – Positive Psychology 1504, Harvard University.
Lyubomirsky, S., Sheldon, K. M., & Schkade, D. (2005). Pursuing Happiness: The Architecture of Sustainable Change. Review of General Psychology.
Emmons, R. A., & McCullough, M. E. (2003). Counting Blessings Versus Burdens: An Experimental Investigation of Gratitude and Subjective Well-Being in Daily Life. Journal of Personality and Social Psychology, 84(2), 377–389.
- Penulis: Devina

