Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Menjaga Manusia di Pusat Pembangunan; Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sebagai Jalan Indonesia Menuju SDGs 2030

Menjaga Manusia di Pusat Pembangunan; Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sebagai Jalan Indonesia Menuju SDGs 2030

  • account_circle Devina
  • calendar_month Jum, 10 Okt 2025

Di balik deru mesin dan geliat pembangunan, masih ada pekerja yang mempertaruhkan keselamatan demi roda ekonomi. Saatnya menjadikan keselamatan kerja sebagai fondasi moral menuju Indonesia berkelanjutan.

Lens IDN, Opini – Indonesia hari ini tengah berdiri di persimpangan antara kemajuan ekonomi dan tanggung jawab moral terhadap keselamatan manusia di dunia kerja. Dalam perjalanan menuju target Sustainable Development Goals (SDGs) 2030, khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) serta SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), isu Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) menjadi semakin relevan. Pertumbuhan industri, urbanisasi cepat, dan tekanan produktivitas menuntut perhatian lebih terhadap perlindungan pekerja, yang sejatinya merupakan pilar utama pembangunan berkelanjutan.

Data dari BPJS Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa pada tahun 2023 terjadi 370.747 kasus kecelakaan kerja, sementara pada 2024 angka itu melonjak menjadi 462.241 kasus, atau meningkat sekitar 24,68 %. Kenaikan ini menggambarkan bahwa meski perekonomian pulih pascapandemi, budaya keselamatan kerja belum sepenuhnya menjadi prioritas. Pekerja sektor konstruksi, manufaktur, dan jasa logistik menanggung beban risiko tertinggi, dengan kerugian ekonomi mencapai sekitar Rp 3,49 triliun pada 2024. Angka-angka ini menegaskan bahwa keberhasilan ekonomi tidak boleh dicapai dengan mengorbankan keselamatan manusia yang menggerakkannya.

Masalah K3 di Indonesia berakar pada ketimpangan penerapan standar antara perusahaan besar dan usaha kecil menengah, keterbatasan jumlah pengawas ketenagakerjaan, serta rendahnya kesadaran di sektor informal. Tantangan baru juga muncul akibat perubahan iklim-gelombang panas, polusi udara, dan bencana hidrometeorologi meningkatkan risiko bagi pekerja luar ruang. Selain itu, pelaporan kecelakaan yang belum terintegrasi menyebabkan banyak kasus tak tercatat secara akurat, sehingga kebijakan pencegahan sering tertinggal dari realitas di lapangan.

Menghadapi tantangan tersebut, peran berbagai pihak menjadi krusial. Pemerintah perlu memperkuat implementasi Sistem Manajemen K3 (SMK3) berbasis risiko, memperbanyak inspektur, dan membuka dashboard data insiden yang transparan. Dunia usaha harus menjadikan K3 bagian dari strategi bisnis, bukan sekadar kewajiban administratif-mengintegrasikannya ke dalam laporan Environmental, Social, and Governance (ESG). Serikat pekerja dan komunitas perlu aktif dalam pendidikan keselamatan dan pelaporan bahaya di tempat kerja. Akademisi dapat berperan melalui riset terapan, pelatihan, serta pendampingan UMKM agar mampu menerapkan standar K3 yang efisien dan sesuai konteks lokal. Di sisi lain, BPJS Ketenagakerjaan dapat memanfaatkan data klaim sebagai sistem peringatan dini (early warning system) bagi sektor-sektor berisiko tinggi.

Langkah-langkah perbaikan yang dapat ditempuh mencakup penerapan indikator leading K3 per kota industri, program “UMKM K3 Naik Kelas” berbasis mentoring perusahaan besar, digitalisasi pelaporan kecelakaan melalui aplikasi terintegrasi, serta penerapan protokol kerja adaptif terhadap iklim ekstrem. Pemerintah juga dapat memberi insentif fiskal bagi industri yang berinvestasi pada rekayasa keselamatan, sementara media dan komunitas lokal dapat menggelorakan kampanye humanis bertajuk “Pulang Selamat Setiap Hari.”

Singkatnya, peningkatan kasus kecelakaan dari 370 ribu menjadi 462 ribu dalam dua tahun terakhir menjadi cermin bahwa Indonesia masih harus bekerja keras mewujudkan target SDG 3 dan 8.8. K3 bukanlah beban biaya, melainkan investasi moral dan produktivitas jangka panjang. Tanpa pekerja yang aman dan sehat, pembangunan berkelanjutan kehilangan maknanya.

Saya percaya, ketika pemerintah, industri, akademisi, dan pekerja bergerak dengan kesadaran yang sama, bahwa keselamatan adalah hak asasi setiap manusia, maka Indonesia akan mampu menurunkan angka kecelakaan dan sekaligus menegakkan martabat kerja. Kita ingin tumbuh sebagai bangsa yang maju tanpa kehilangan nurani; bangsa yang mengukur keberhasilan bukan hanya dari tinggi gedung atau laju ekonomi, tetapi dari kepastian bahwa setiap pekerja bisa berangkat dengan semangat dan pulang dengan selamat.

 

*) Penulis adalah Heru Sutopo, Mahasiswa Program Doktoral (S3) Ilmu Kesehatan Masyarakat,Fakultas Kesehatan Masyarakat,Universitas Hasanuddin.

  • Penulis: Devina
Tags

Rekomendasi Untuk Anda

  • publikasi_1787204964_6a86956419d24

    Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,45 Persen, Bank Emas Jadi Penopang Baru Hilirisasi

    • calendar_month Kam, 20 Agu 2026
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Jakarta — Pemerintah terus memperkuat ekosistem emas nasional sebagai salah satu strategi meningkatkan nilai tambah sumber daya alam sekaligus memperkuat perekonomian Indonesia. Pengembangan bank emas atau bullion bank menjadi perhatian setelah Presiden Prabowo Subianto menyampaikan dalam Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI pada 14 Agustus 2026 bahwa […]

  • 591440385_1177029017945517_3775696333761904917_n

    Komisi Reformasi Polri Serap Aspirasi Publik, Libatkan FKUB hingga YLBHI

    • calendar_month Sen, 1 Des 2025
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Jakarta — Komisi Percepatan Reformasi Kepolisian Republik Indonesia (KPR Polri) terus mempercepat langkah transformasi sistem kepolisian dan penegakan hukum berbasis partisipasi publik. Salah satu upaya konkret dilakukan melalui dialog terbuka dengan berbagai elemen masyarakat yang digelar di Ruang Aspirasi, Kementerian Sekretariat Negara Sayap Timur, Selasa (25/11/2025). Audiensi tersebut dilaksanakan dalam dua sesi. Sesi […]

  • Menkeu Purbaya Diminta Perhatikan Nasib Pengusaha Rokok Madura

    Menkeu Purbaya Diminta Perhatikan Nasib Pengusaha Rokok Madura

    • calendar_month Sel, 30 Sep 2025
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Jakarta – Asosiasi Pengusaha Muda Tembakau Madura (APTMA) melakukan audiensi dengan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, Senin, 29 September 2025. Dalam kesempatan itu, Asosiasi meminta agar Menteri Purbaya turut memperhatikan pengusaha rokok asal Madura. “Kami mempunyai keinginan bagaimana Madura dijadikan sebagai kawasan khusus dan memberlakukan SKM dan SPM kelas III dengan perkiraan […]

  • WhatsApp Image 2025-11-28 at 12.06.36

    Plakat Desa Batah Timur Berbahan Ecobrik, Inovasi Lingkungan Bernilai Edukatif

    • calendar_month Jum, 28 Nov 2025
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Bangkalan – Program kerja pembuatan plakat nama Desa Batah Timur menjadi wujud kontribusi nyata dalam memperindah lingkungan sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah berbasis ecobrik. Plakat yang kini terpasang di kawasan desa tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penanda identitas wilayah, tetapi juga merepresentasikan komitmen warga terhadap pelestarian lingkungan. Keunikan plakat terletak pada […]

  • a7a750b2-b87b-4588-b9aa-d27aaa03e8da

    15 Tahun Garnita Malahayati NasDem, Menginspirasi Perempuan Memimpin Perubahan Bangsa

    • calendar_month Ming, 19 Jul 2026
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Bandung – Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-15 Garnita Malahayati Partai NasDem, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Garnita Malahayati Partai NasDem Provinsi Jawa Barat, Fiskiyya Nardhina, S.H., mengajak seluruh perempuan Indonesia untuk terus mengambil peran strategis dalam membangun bangsa melalui kepemimpinan, pengabdian, dan karya nyata. Menurut Fiskiyya, perjalanan selama lima belas tahun bukan […]

  • nida jpg.jpg

    Cucu Pemimpin Bank Jabar Era 1990-an, Nida Ghaida F Siap Menggerakkan Lagi Ekonomi Kreatif Jawa Barat

    • calendar_month Jum, 12 Jun 2026
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Business – Nida Ghaida F merupakan cucu pertama dari sosok yang pernah memimpin Bank Jabar (Kepala BJB) yang bernama Hj. Omo Sudrajat pada masa yang dikenang sebagai salah satu periode paling progresif dalam perkembangan ekonomi Jawa Barat, yakni awal dekade 1990-1995 an. Pada masa tersebut, Jawa Barat tumbuh sebagai salah satu pusat ekonomi […]

expand_less