Mahasiswa UIN Jakarta Blokade Jalan Ciputat, Tolak Kampus Jadi Pengelola MBG
- account_circle Azkatia
- calendar_month Jum, 8 Mei 2026

KBM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta gelar demonstrasi di depan gedung rektorat sebagai penolakan terhadap kampus dalam pengelolaan MBG. (Foto: Dok/Ist).
Lens IDN, Jakarta — Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar aksi demonstrasi besar-besaran di depan gedung rektorat sebagai bentuk penolakan terhadap rencana kampus dalam pengelolaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Massa aksi yang terdiri dari berbagai fakultas, organisasi mahasiswa, serta elemen gerakan mahasiswa Ciputat tersebut menilai kebijakan tersebut semakin memperlihatkan arah kampus yang bergeser dari ruang pendidikan menjadi ruang proyek dan bisnis.
Aksi dimulai sejak siang hari dengan long march menuju depan rektorat. Mahasiswa membawa berbagai spanduk dan poster bertuliskan “Kampus Bukan Dapur”, “Pendidikan Bukan Komoditas”, hingga “Tolak Komersialisasi Kampus Berkedok MBG”. Dalam aksinya, mahasiswa secara bergantian melakukan orasi yang menyoroti krisis orientasi pendidikan tinggi yang dinilai semakin menjauh dari fungsi utamanya sebagai ruang ilmiah dan pembebasan.
Situasi memanas ketika massa aksi bergerak menuju jalan raya di depan halte UIN Jakarta dan melakukan blokade jalan sebagai bentuk eskalasi perjuangan. Penutupan jalan tersebut menyebabkan arus lalu lintas Ciputat tersendat selama beberapa waktu. Mahasiswa menegaskan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk kekecewaan atas sikap kampus yang dianggap tidak pernah membuka ruang dialog serius dengan mahasiswa terkait kebijakan-kebijakan strategis yang berdampak langsung terhadap arah pendidikan.
Salah satu orator aksi, Muhammad Zidan Ramdani selaku perwakilan KBM UIN Jakarta, menegaskan bahwa keterlibatan kampus dalam pengelolaan MBG merupakan bentuk nyata komersialisasi pendidikan yang harus ditolak bersama. Menurutnya, kampus seharusnya berfokus memperbaiki kualitas akademik, fasilitas pendidikan, kesejahteraan tenaga pendidik, serta menurunkan beban biaya pendidikan mahasiswa, bukan justru masuk ke dalam skema proyek pemerintah yang berpotensi mengaburkan fungsi utama perguruan tinggi.
“Kami menolak keras ketika kampus mulai diarahkan menjadi operator proyek. Hari ini MBG, besok bisa saja seluruh ruang kampus berubah menjadi ruang bisnis. Pendidikan sedang kehilangan marwahnya ketika orientasi kampus bukan lagi mencerdaskan, tetapi mengelola proyek dan keuntungan,” tegas Muhammad Zidan Ramdani dalam orasinya.
Mahasiswa juga menyoroti berbagai persoalan pendidikan yang hingga hari ini belum terselesaikan, mulai dari tingginya biaya UKT, keterbatasan fasilitas belajar, hingga minimnya ruang partisipasi mahasiswa dalam pengambilan kebijakan kampus. Mereka menilai pengelolaan MBG oleh kampus hanya akan menambah beban birokrasi serta membuka peluang praktik pragmatis di lingkungan pendidikan tinggi.
Keluarga Besar Mahasiswa UIN Jakarta menyatakan bahwa gerakan ini bukan sekadar penolakan terhadap satu kebijakan teknis, melainkan bentuk perlawanan terhadap arah pendidikan tinggi yang semakin liberal dan berorientasi pasar. Mereka menilai kampus harus tetap berdiri sebagai ruang kritis yang berpihak pada kepentingan rakyat dan masa depan pendidikan, bukan menjadi kepanjangan tangan proyek kekuasaan.
- Penulis: Azkatia

