Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Nasional » Menkeu Purbaya Diminta Perhatikan Nasib Pengusaha Rokok Madura

Menkeu Purbaya Diminta Perhatikan Nasib Pengusaha Rokok Madura

  • account_circle Azkatia
  • calendar_month Sel, 30 Sep 2025

Lens IDN, Jakarta – Asosiasi Pengusaha Muda Tembakau Madura (APTMA) melakukan audiensi dengan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, Senin, 29 September 2025. Dalam kesempatan itu, Asosiasi meminta agar Menteri Purbaya turut memperhatikan pengusaha rokok asal Madura.

“Kami mempunyai keinginan bagaimana Madura dijadikan sebagai kawasan khusus dan memberlakukan SKM dan SPM kelas III dengan perkiraan harga di bawah SKT kelas I yakni di angka Rp350 sampai Rp400 per batang,” ujar Ketua Umum APTMA Holili, usai audiensi di Kantor Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Jakarta.

Usulan itu mereka sampaikan, lantaran penyumbang terbesar penghasil tembakau nasional ialah berasal dari Madura. “Bahkan di Jawa Timur mencapai angka 57 persen penyumbang tembakau untuk Indonesia,” ucapnya.

Holili mengungkapkan, industri hasil tembakau di Madura merupakan salah satu sektor penting yang menopang penerimaan negara dan perekonomian daerah. Dalam empat tahun terakhir, penerimaan cukai hasil tembakau asal Madura menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Pada tahun 2021 sebesar Rp466 miliar, lalu 2022 Rp622 miliar, tahun 2023 Rp722 miliar dan tahun 2024 Rp1,101 triliun.

“Pertumbuhan penerimaan tersebut membuktikan bahwa industri rokok lokal Madura memiliki kontribusi yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Selain kontribusi fiskal, keberadaan industri rokok lokal turut memberi dampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat,” paparnya.

“Berdasarkan data, tingkat kemiskinan di Madura mengalami penurunan yang lebih cepat dibandingkan rata-rata kabupaten/kota lain di Jawa Timur. Sejak 2020–2024, penurunan rata-rata kemiskinan di Madura mencapai 1,86 persen poin, lebih tinggi dibandingkan rata-rata penurunan provinsi yang hanya 1,24 persen poin,” imbuh Holili.

Holili melanjutkan, di balik kontribusi besar tersebut, terdapat permasalahan serius yang mengancam keberlangsungan usaha rokok lokal Madura. Antara lain, kebijakan tarif cukai yang tidak adil dan proporsional. Pengusaha kecil, kata dia diperlakukan sama dengan perusahaan besar nasional.

Lalu, beban biaya tinggi yang berisiko membuat usaha kecil terpuruk atau gulung tikar. Kemudian, kurangnya kebijakan pembinaan dan regulasi lebih menekankan aspek represif daripada edukatif.

Selanjutnya, kebijakan tunda bayar cukai yang tidak merata. Skema ini lebih sering menguntungkan pengusaha besar. Kemudian, ketiadaan klasifikasi berbasis skala usaha. SKM dan SPM dipukul rata tanpa diferensiasi, padahal kapasitas produksi tiap kelompok usaha berbeda jauh.

“Situasi ini berpotensi menghambat berkembangnya usaha kecil, mengurangi kepatuhan fiskal, hingga menimbulkan praktik usaha informal yang pada akhirnya justru merugikan negara,” jelas Holili.

Ia menyebut, audiensi dilakukan sekaligus menampik stigma negatif bahwa Madura merupakan wilayah penghasil atau produsen rokok secara ilegal. “Saya sering membantah Madura itu bukan wilayah produsen rokok ilegal. Padahal lebih banyak wilayah yang memproduksi rokok ilegal di luar Madura,” tuturnya.

Holili menuturkan, kapasitas mesin produksi rokok di Madura hanya mampu menghasilkan ribuan batang. Ini tentunya jauh lebih kecil dibanding mesin dari perusahaan atau produsen rokok yang lebih besar.

Ia mengatakan, Sigaret Kretek Mesin (SKM) di Madura itu berbeda Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL)-nya. Jika di wilayah lain, mulai dari produksi sampai didistribusikan menggunakan mesin.

“Tapi kalau Madura ini kombinasi, hanya sekadar masukin tembakau ke kertas itu yang pakai mesin. Sementara bungkus dan lain sebagainya itu pakai tangan semua,” tuturnya.

Karena itu, APTMA memberikan solusi atas segala persoalan ini. Yaitu, dengan diberlakukannya kijakan khusus untuk rokok lokal Madura dalam bentuk tarif khusus, mekanisme pembayaran fleksibel, dan regulasi adaptif.

Kemudian, adanya kebijakan pajak berkeadilan dan proporsional dengan cara tarif cukai ditetapkan berdasarkan skala usaha: kecil, menengah, besar. Lalu, pembinaan yang memadai dalam bentuk dukungan pemerintah berupa edukasi, fasilitasi legalitas, dan akses modal.

Selanjutnya, kebijakan tunda bayar yang berkeadilan berupa skema aksesibilitas terbuka bagi semua skala usaha, bukan hanya perusahaan besar.

Terakhir, klasifikasi produksi SKM/Sigaret Putih Mesin (SPM), yaitu:

  1. Kelas I: Produksi > 3 miliar batang/tahun (industri besar nasional).
  2. Kelas II: Produksi 350 juta – 3 miliar batang/tahun (industri menengah).
  3. Kelas III: Produksi < 350 juta batang/tahun (industri kecil/pemula).

Adapun pihak yang mewakili Menkeu yakni Ditjen Strategi Ekonomi Fiskal, Ditjen Perimbangan Keuangan, serta Ditjen Bea dan Cukai, mengatakan akan membuat kajian terlebih dahulu menyikapi usulan APTMA.

“Kalau sudah dibuat Ditjen Bea Cukai, Kemenkeu turun ke Madura untuk mendengar pendapat dari pelaku usaha,” kata Holili.

Holili berharap, Menkeu tak cuma mendengar pengusaha atau produsen rokok besar, maupun produsen menengah ke atas.

“Pak Menteri harus juga mendengar pelaku usaha kecil, menengah seperti ini yang ada di Madura,” kata Holili.

“Kita ini layer tiga yang main polos. Yang kadang salsi, salah isi, salah tun salah peruntukan,” imbuhnya.

Menurutnya apabila pemerintah hendak memberantas rokok ilegal, seharusnya rokok ilegal yang diproduksi di luar negeri seperti dari Arab Saudi, China, Kamboja dan lainnya yang diberantas. Sebab rokok dari negara luar itu yang sesungguhnya mengancam perekonomian RI.

“Kalau rokok ilegal dari negara kita itu perputaran uangnya kan di negara kita, Indonesia. Kalau yang dari luar negeri kan perputaran uangnya di luar negeri,” jelas Holili.

Turut hadir dalam audiensi, perwakilan Paguyuban Pelopor Petani dan Pedagang Tembakau Madura (P4TM) Jhoni Iskandar dan Azif Mawardi Zein.

  • Penulis: Azkatia

Rekomendasi Untuk Anda

  • kenm

    Tips Memilih Bus Malam yang Aman dan Tepat untuk Kebutuhanmu

    • calendar_month Sel, 24 Mar 2026
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Pariwisata – Perjalanan jarak jauh sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi banyak orang, terutama jika harus ditempuh dalam waktu yang cukup lama dan melelahkan. Tidak sedikit orang yang merasa bingung dalam menentukan moda transportasi yang paling tepat, paling aman, dan paling sesuai dengan kebutuhan serta anggaran yang dimiliki. Di antara berbagai pilihan yang […]

  • Bagaimana Cara Kerja “Bratayuda”? Bra Cerdas Ini Analisis Data Biometrik untuk Lawan Kanker Payudara

    Bagaimana Cara Kerja “Bratayuda”? Bra Cerdas Ini Analisis Data Biometrik untuk Lawan Kanker Payudara

    • calendar_month Jum, 10 Okt 2025
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Denpasar – Di balik nama “Bratayuda”, sebuah inovasi bra pintar (smart bra) dari mahasiswa Universitas Udayana, terdapat sebuah sistem teknologi canggih yang bekerja layaknya detektif medis. Pertanyaannya, bagaimana sebuah pakaian dalam bisa mendeteksi penyakit serius seperti kanker payudara? Jawabannya terletak pada analisis data biometrik yang presisi. Proyek yang menjanjikan ini tidak berjalan sendiri. […]

  • IMG_8915.JPG

    Ardana Pranasta Masuki Ekosistem Konten Gaming, Ikuti Perkembangan Hiburan Digital

    • calendar_month Jum, 16 Okt 2026
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Surabaya — Ardana Pranasta mulai menapaki ruang hiburan digital melalui konten gaming dan livestreaming. Langkah ini menjadi perkembangan baru bagi sosok yang sebelumnya dikenal luas melalui konten “siram-siram love” yang viral pada September 2021. Konten khas tersebut membuat Ardana memperoleh julukan “CEO of Lope-Lope”. Seiring perjalanan waktunya di media sosial, ia kini mulai […]

  • 20251215_121335_0000

    Mahasiswa UPN Veteran Jatim Edukasi Moderasi Beragama Bersama Anak-anak SSC Sidoarjo

    • calendar_month Sen, 15 Des 2025
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Sidoarjo — Sepuluh mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa edukasi moderasi beragama bersama anak-anak Save Street Child (SSC) Sidoarjo di Monumen Jayandaru, Alun-Alun Kabupaten Sidoarjo, 13 Desember 2025. Kegiatan ini merupakan implementasi mata kuliah Pendidikan Agama Islam yang diampu oleh Budi Prasetyo Margono, S.Pd.I., M.Pd. […]

  • WhatsApp Image 2026-05-22 at 10.36.57

    Peringati Harlah ke-66, PC PMII Paser Teken MoU Pencegahan Kekerasan Seksual dan Perundungan, Sekaligus Luncurkan Logo dan Website Resmi

    • calendar_month Jum, 22 Mei 2026
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Paser – Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kabupaten Paser resmi menjalin kerja sama strategis dengan Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Kabupaten Paser. Kolaborasi ini berfokus pada langkah konkret pencegahan dan penanganan pelecehan seksual serta perundungan (bullying) di lingkungan perguruan tinggi dan Organisasi Kemasyarakatan Pemuda […]

  • 0a3c14d0-1985-4db9-ad48-9fbb38f82163

    Menjaga Nilai, Membangun Kemandirian Menyiapkan Kepemimpinan Ekonomi Perempuan yang Berdaya, Akuntabel dan Berlandaskan Ahlussunnah wal Jamaah

    • calendar_month Rab, 29 Jul 2026
    • account_circle Devina
    • 0Komentar

    Lens IDN, Kolom – Dunia kerja, teknologi, ekonomi, dan politik berubah jauh lebih cepat daripada kemampuan banyak organisasi dalam menyesuaikan sistem kaderisasinya. Di tengah perubahan tersebut, keterwakilan Perempuan meningkat, tetapi kekuasaan, akses anggaran, kontrol atas sumber daya, dan pengaruh terhadap keputusan belum sepenuhnya setara. Artikel ini mengajak KOPRI untuk membaca ulang kaderisasi sebagai proses menyiapkan […]

expand_less