Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Mahkota untuk Mempelai Pria: Tradisi Unik di Pesisir Selatan

Mahkota untuk Mempelai Pria: Tradisi Unik di Pesisir Selatan

  • account_circle Devina
  • calendar_month Senin, 8 Des 2025
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Lens IDN, Kolom – Pernikahan merupakan salah satu momen penting dalam kehidupan, dan setiap wilayah di Indonesia memiliki cara yang khas dalam melaksanakan prosesi tersebut. Dalam masyarakat Minangkabau pengantin perempuan umumnya menggunakan hiasan kepala bertingkat, terdiri dari susunan ornamen bermotif dan berwarna keemasan yang disebut dengan suntiang. Di Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat, tepatnya di Inderapura, terdapat sebuah tradisi pernikahan yang sangat unik. Di sini, kedua mempelai pria maupun wanita akan mengenakan suntiang dalam prosesi pernikahan mereka.  Mempelai pria menggunakan suntiang pada saat beriringan atau arak-arakan, kedua mempelai memakai suntiang untuk berkeliling kampung dengan tujuan memberitahukan kepada masyarakat kampung bahwa kedua mempelai telah sah berstatus suami istri.

Suntiang yang di pakai mempelai pria coraknya berbeda dengan mempelai wanita, suntiang yang di pakai mempelai pria tinggi lonjongnya lebih rendah dibandingkan dengan suntiang mempelai wanita, kemudian lebarnya pun lebih kecil dibandingkan mempelai wanita. Hal ini tentu saja berbeda dari kebiasaan di banyak daerah Minangkabau lainnya, yang mana umumnya mempelai pria mengenakan Saluak (sejenis topi khas Minang) dan suntiang biasanya hanya dipakai oleh mempelai wanita saja.

Tradisi ini telah menjadi turun temurun masyarakat Inderapura sejak dahulu. Asal usul adat Marapulai Basuntiang (pengantin pria) berawal dari rencana penyerangan Kerajaan Majapahit di bawah kepemimpinan Adityawarman ke daerah Inderapura pada abad ke-14. Penyerangan ini dilatarbelakangi oleh keinginan Majapahit yang ingin menguasai daerah Inderapura karena kaya akan sumber daya alam. Namun, pasukan perang Adityawarman malah disambut dengan baik tanpa persenjataan. Pasukan itu disambut dengan tarian yang dibawakan Anak Daro (sebutan untuk pengantin perempuan dalam adat istiadat Minangkabau) yang memakai suntiang. Setelah tarian selesai ditampilkan, akhirnya kesepakatan perang batal dilakukan karena Raja Adityawarman tertarik pada salah satu Anak Daro yang menari. Akhirnya, Adityawarman pun dinikahkan dengan wanita asal Inderapura dengan syarat harus memakai suntiang. Pemakaian suntiang pada Adityawarman bertujuan untuk menyamakan derajatnya dengan wanita yang akan dinikahinya. Adityawarman pun setuju dengan kesepakatan tersebut dan memakai suntiang saat menikah. Semenjak saat itu, tradisi “Marapulai Basuntiang” ini menjadi tradisi masyarakat daerah Inderapura yang berlangsung hingga sekarang.

Tradisi ini menunjukkan perbedaan yang menarik, ini menjadi simbol dari kesetaraan dalam pernikahan yang menggambarkan bahwa peran pria dan wanita dalam keluarga memiliki kedudukan yang sama pentingnya. Dengan adanya tradisi untuk mengenakan suntiang pada mempelai pria adalah sebagai bentuk simbol kesetaraan gender dalam rumah tangga. Dalam masyarakat Minangkabau, meskipun sering kali kita melihat pembagian peran yang jelas antara laki-laki dan perempuan, tradisi ini membawa pesan yang lebih mendalam tentang kemitraan dalam pernikahan. Ini menunjukkan bahwa dalam rumah tangga, baik suami maupun istri memiliki peran yang sama dalam membangun keluarga yang bahagia dan sejahtera.

Tradisi penggunaan suntiang oleh kedua mempelai merupakan salah satu bentuk kekayaan budaya yang patut dibanggakan. Tradisi ini tidak hanya menyimbolkan keindahan dan keanggunan, tetapi juga pesan yang sangat mendalam tentang kesetaraan, keharmonisan, dan pentingnya peran kedua belah pihak dalam membangun keluarga yang bahagia. Sebagai masyarakat yang menghargai warisan budaya, kita semua memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan tradisi ini agar dapat dinikmati oleh generasi selanjutnya.

 

*) Penulis adalah Sherly Ramadhani, Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.

  • Penulis: Devina

Rekomendasi Untuk Anda

  • WhatsApp Image 2026-01-11 at 17.38.31

    Refleksi Kritis Gerakan Eksklusif Atas Nama Madura sebagai Upaya Melawan Stigma dan Penunggangan Modal di Ruang Publik

    • calendar_month Minggu, 11 Jan 2026
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Jakarta – Menguatnya peran organisasi masyarakat (ormas) berbasis identitas lokal di ruang publik kembali menjadi sorotan dan perbincangan. Fenomena tersebut tidak hanya memunculkan solidaritas komunal, tetapi juga berpotensi melahirkan konflik horizontal dan stigma sosial ketika identitas digunakan secara eksklusif dan instrumental. Isu itu menjadi pokok bahasan dalam Seminar Nasional bertajuk “Ormas, Identitas Lokal […]

  • Duta Maritim Indonesia 2025

    Duta Maritim Indonesia 2025 Refleksikan Semangat Kebangsaan di Monumen Pancasila Sakti

    • calendar_month Sabtu, 16 Agt 2025
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Jakarta – Peserta Sekolah Duta Maritim Indonesia 2025 menggelar kunjungan ke Monumen Pancasila Sakti, Jakarta Timur. Agenda ini bukan sekadar wisata sejarah, melainkan momentum refleksi mendalam tentang arti keteguhan dalam menjaga kedaulatan bangsa, khususnya di bidang maritim. Di lokasi yang sarat makna perjuangan tersebut, para Duta Maritim menegaskan bahwa tugas generasi muda masa […]

  • Duta Maritim Indonesia 2025 Sambangi DPR RI, Tamsil Lingrung Dorong Pemuda Wujudkan Poros Maritim Dunia

    Duta Maritim Indonesia 2025 Sambangi DPR RI, Tamsil Lingrung Dorong Pemuda Wujudkan Poros Maritim Dunia

    • calendar_month Jumat, 15 Agt 2025
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Jakarta — Duta Maritim Indonesia 2025 melakukan kunjungan resmi ke Gedung DPR RI pada Kamis (14/8/2025) dan berkesempatan berdialog langsung dengan Wakil Ketua DPD RI, Tamsil Lingrung. Pertemuan ini menjadi momentum penting dalam membahas masa depan maritim Indonesia sekaligus peran strategis generasi muda dalam mewujudkan cita-cita bangsa sebagai Poros Maritim Dunia. Dalam penyampaiannya, […]

  • Bakamla RI

    Bakamla RI Dorong Peran Blue Economy dan Perkuat Keamanan Laut

    • calendar_month Sabtu, 16 Agt 2025
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Jakarta — Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (Bakamla RI) terus menegaskan perannya dalam mendukung penguatan blue economy Indonesia. Hal tersebut disampaikan oleh Wawan Gunawan dari Bakamla RI dalam sesi materi Sekolah Duta Maritim Indonesia (SDMI). Dalam pemaparannya, Wawan menjelaskan sejarah singkat Bakamla yang hadir sebagai garda terdepan menjaga keamanan laut Nusantara. Menurutnya, laut […]

  • Rio Ferdinand Nilai Amad Diallo Bisa Jadi Senjata Baru Manchester United

    Rio Ferdinand Nilai Amad Diallo Bisa Jadi Senjata Baru Manchester United

    • calendar_month Rabu, 20 Agt 2025
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Jakarta – Mantan bek Manchester United, Rio Ferdinand, menyoroti penampilan Amad Diallo usai laga kontra Arsenal. Meski tim asuhan Ruben Amorim harus menelan kekalahan tipis 0-1, Ferdinand melihat adanya potensi besar dalam diri winger asal Pantai Gading tersebut. Amad yang masuk sebagai pemain pengganti tampil penuh energi dan berhasil memberikan warna berbeda dalam […]

  • WhatsApp Image 2026-10-26 at 22.50.18

    Konsolidasi Nasional DEMA PTKIN III Resmi Ditutup, Wamenag hingga Pimpinan Mahasiswa Serukan Penguatan Gerakan Intelektual

    • calendar_month 14 jam yang lalu
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Medan — Konsolidasi Nasional Dewan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (DEMA PTKIN) Se-Indonesia III menjadi momentum konsolidasi gerakan mahasiswa dalam merespons berbagai persoalan strategis nasional, mulai dari krisis ekologi, evaluasi Proyek Strategis Nasional (PSN), program Makan Bergizi Gratis (MBG), tata kelola pendidikan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN), hingga perlindungan kebebasan berpendapat […]

expand_less