Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Perempuan yang Tidak Pernah Dimanjakan: Dari Jalan Panjang Sejak Kecil, Menjadi Sosok yang Berhasil

Perempuan yang Tidak Pernah Dimanjakan: Dari Jalan Panjang Sejak Kecil, Menjadi Sosok yang Berhasil

  • calendar_month Selasa, 22 Sep 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Lens IDN, Kolom – Ada perempuan yang sejak kecil tidak pernah benar-benar mengenal kata “manja”. Pagi harinya bukan hanya tentang bersiap ke sekolah, tetapi juga menggiring sapi, pergi ke sawah, dan membantu pekerjaan keluarga. Baginya, bermain dan bersantai bukanlah bagian utama dari masa kanak-kanak. Ada tanggung jawab yang harus diselesaikan sebelum ia mengenakan seragam sekolah.

Perempuan itu lahir pada 1968 dan merupakan anak keempat dari sekitar tiga belas bersaudara. Ia tumbuh dalam keluarga yang secara ekonomi tergolong berada. Namun, berada bukan berarti dimanjakan. Ayahnya justru mendidik anak-anaknya dengan keras agar terbiasa bekerja dan tidak bergantung kepada orang lain.

Setiap pagi sebelum sekolah, ia harus pergi ke sawah. Sekolahnya berlangsung siang hari sehingga setelah menyelesaikan pekerjaan, ia harus berjalan kaki menuju pusat kecamatan di bawah terik matahari. Sesekali ayahnya menawarkan untuk mengantarnya. Namun, tawaran itu ditolak. Bukan karena tidak ingin diantar, melainkan karena ia merasa lebih nyaman berjalan bersama teman-temannya. Baginya, perjalanan menuju sekolah justru menjadi bagian yang menyenangkan.

Di sekolah, ia dikenal sebagai anak yang cukup cerdas. Ketika teman-temannya harus berbaris rapi karena hukuman belum hafal pelajaran, ia justru dapat duduk dengan tenang. Bahkan ketika ujian, ia merasa soal-soal yang diberikan relatif mudah dikerjakan. Kemampuannya juga dimanfaatkan oleh kakaknya. Ia sering membantu mengerjakan tugas kakaknya yang berada satu tingkat di atasnya, tentu dengan imbalan yang sudah disepakati bersama. Dari sana terlihat bahwa sejak kecil ia sudah memiliki kemandirian, kemampuan belajar, sekaligus keinginan untuk mendapatkan ‘kompensasi’ melalui usahanya sendiri.

Namun, perjalanan pendidikannya tidak berakhir karena ia tidak mampu belajar. Justru sebuah perkara sederhana menjadi titik balik hidupnya.

Saat duduk di kelas dua SMP, ia meminta ibunya membuatkan lemet, jajanan tradisional yang ia

inginkan untuk dibawa dalam acara Maulid Nabi di sekolah. Permintaannya ditolak karena sang ibu harus mengurus banyak adiknya. Ia kecewa, merajuk, lalu memutuskan tidak masuk sekolah.

Ketika orang tuanya bertanya, “Kamu tidak berangkat sekolah?”

Ia menjawab singkat, “Tidak. Aku tidak mau.”

Hari itu menjadi awal berhentinya ia dari sekolah.

Ayahnya kemudian membelikannya sebuah toko kecil di pasar yang menjual kebutuhan sehari-hari seperti gula dan bumbu dapur. Di sanalah pelajaran lain dimulai. Suatu ketika, beberapa pembeli mengambil barang tetapi belum membayarnya. Ia tentu merasa bingung karena uang hasil dagangan tidak sesuai dengan barang yang keluar. Namun, ayahnya justru berkata, “Tidak apa-apa. Kalau memang rezeki, pasti kembali.”

Beberapa hari kemudian, satu per satu pembeli tersebut datang kembali. Mereka mengatakan bahwa sebelumnya lupa membayar dan menyerahkan uang yang menjadi hak toko. Apakah itu kebetulan atau sesuatu yang lain, ia sendiri tidak pernah menjadikannya persoalan. Yang ia pegang adalah satu hal: kejujuran dalam berdagang tidak boleh ditinggalkan hanya karena orang lain berbuat sebaliknya.

Nilai seperti kejujuran, kerja keras, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap keluarga dapat dilihat sebagai bentuk pengamalan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. BPIP juga menjelaskan bahwa aktualisasi Pancasila tercermin dalam perilaku, pengetahuan, dan sikap masyarakat.

Kini, perempuan itu memiliki usaha toko gerabah di pasar tradisional. Dari usaha tersebut, ia mampu memenuhi kebutuhan keluarga dan membantu membiayai pendidikan empat anaknya. Harta orang tuanya yang dahulu cukup banyak pun tidak menjadi warisan yang dapat dinikmati begitu saja. Sebagian besar habis untuk biaya pengobatan ayahnya pada masa tua. Karena itu, kehidupan yang ia bangun sekarang lebih banyak berasal dari kerja kerasnya sendiri.

Lalu, siapa sebenarnya perempuan yang sejak tadi saya ceritakan?

Ia adalah ibu saya.

Saya tumbuh dari seorang perempuan yang mungkin tidak menyelesaikan pendidikan formalnya, tetapi mengajarkan saya banyak hal yang tidak selalu ditemukan di ruang kelas: bekerja tanpa banyak mengeluh, tidak mudah bergantung kepada orang lain, menjaga kejujuran, dan berusaha memberikan pendidikan yang lebih baik kepada anak-anaknya.

Bagi saya, keteladanan Pancasila tidak selalu hadir dalam sosok besar yang dikenal banyak orang. Kadang, ia tumbuh diam-diam di pasar tradisional, di balik meja toko, dan di tangan seorang ibu yang setiap hari bekerja agar anak-anaknya tetap bisa bersekolah. Sosok itu tidak perlu disebut sebagai pahlawan. Cukup saya panggil: Ibu.

 

Referensi

  • Wawancara pribadi dengan ibu penulis, Gresik, 10 Agustus 2026. Wawancara mengenai riwayat kelahiran, keluarga, pendidikan, kehidupan ekonomi, dan pengalaman berdagang.
  • Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Indeks Aktualisasi Nilai Pancasila (IAP). BPIP menjelaskan aktualisasi Pancasila melalui indikator perilaku, pengetahuan, dan sikap dalam kehidupan sehari-hari.
  • Penulis: Nur Zahrotun Ainiyah, mahasiswa Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga.
  • Editor: Devina

Rekomendasi Untuk Anda

  • WhatsApp Image 2025-12-17 at 16.03.15

    Generasi Sandwich : Antara Tanggung Jawab Keluarga dan Mimpi Pribadi

    • calendar_month Rabu, 17 Des 2025
    • account_circle Komalasari, Mahasiswi Akuntansi Universitas Pamulang.
    • 0Komentar

    Lens IDN, Kolom – Dalam beberapa tahun terakhir, istilah generasi sandwich semakin sering muncul dalam diskus publik, baik di media massa, akademik, maupun percakapan sehari-hari. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan individu usia produktif yang berada di “tengah” dua generasi: mereka harus mencukupi kebutuhan hidup sendiri, sekaligus menanggung kebutuhan orang tua dan terkadang anggota keluarga lain. […]

  • Mahfud MD Minta Polemik Ijazah Jokowi Segera Diakhiri, Ingatkan Jangan Hina Sesama

    Mahfud MD Minta Polemik Ijazah Jokowi Segera Diakhiri, Ingatkan Jangan Hina Sesama

    • calendar_month Sabtu, 30 Agt 2025
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Jakarta – Mantan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD angkat bicara mengenai polemik ijazah Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo. Ia menegaskan bahwa persoalan tersebut sebaiknya segera dituntaskan melalui jalur hukum tanpa perlu disertai narasi yang bersifat merendahkan. “Serahkan prosesnya pada hukum, apapun hasilnya. Tidak perlu ribut-ribut lagi menurut […]

  • Presiden Prabowo Gelar Pertemuan Tertutup di Hambalang, Bahas Penertiban Hutan dan Tambang Ilegal

    Presiden Prabowo Gelar Pertemuan Tertutup di Hambalang, Bahas Penertiban Hutan dan Tambang Ilegal

    • calendar_month Rabu, 20 Agt 2025
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Bogor – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengundang sejumlah menteri Kabinet Merah Putih dan beberapa kepala lembaga negara ke kediaman pribadinya di Hambalang, Kabupaten Bogor, pada Selasa malam (19/8/2025). Pertemuan tersebut berlangsung secara mendadak dan digelar secara tertutup. Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya dalam keterangan tertulisnya menyampaikan bahwa pembahasan utama dalam pertemuan tersebut […]

  • ca2a136e-62ea-40d5-b846-c3624590c120

    Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Amati Proses Persidangan Cerai Talak

    • calendar_month Kamis, 22 Okt 2026
    • account_circle Safiyah, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.
    • 0Komentar

    Lens IDN, Surabaya – Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya melakukan pengamatan proses persidangan perkara cerai talak di Pengadilan Agama Surabaya sebagai bagian dari pembelajaran hukum secara langsung. Kegiatan ini bertujuan untuk menambah pemahaman mahasiswa mengenai praktik hukum acara di Pengadilan Agama, khususnya dalam penyelesaian perkara perceraian yang diajukan oleh suami. Melalui pengamatan tersebut, mahasiswa […]

  • ISI Surakarta

    Eksplorasi Kreativitas: Mahasiswa Desain Interior FSRD ISI Surakarta Jalani Kuliah Kerja Profesi di PT KAMU Concepts Studio & Design

    • calendar_month Rabu, 7 Jan 2026
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Bali – Mahasiswa Program Studi Desain Interior, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Surakarta mengikuti program Kuliah Kerja Profesi (KKP) di PT KAMU Concepts Studio & Design, 30 Desember 2025. Program ini bertujuan unttuk memberikan pengalaman kerja nyata serta memperkuat kompetensi mahasiswa dalam bidang desain interior. Selama mengikuti KKP, mahasiswa ISI Surakarta terlibat […]

  • WhatsApp Image 2026-01-07 at 14.14.26

    PLN Nusa Daya UL Mamuju Palopo berikan Cahaya Baru di SDN Bullung

    • calendar_month Kamis, 28 Agt 2025
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Mamuju — Semangat kemerdekaan kembali menemukan wujudnya di pelosok negeri di SD Negeri Bullung, Desa Taan, Kec. Tapalang, Kab. Mamuju, Sulawesi Barat, 28 Agustus 2025. Yang terletak di daerah pegunungan resmi mendapatkan aliran listrik tenaga surya “SuperSun” untuk pertama kalinya. Pemasangan ini menjadi kado istimewa di bulan kemerdekaan, menghadirkan cahaya baru bagi anak-anak […]

expand_less