Tingkat Penggunaan Internet Kian Tinggi, UICI dan PAD Perkuat Kolaborasi Pendidikan Digital
- account_circle Azkatia
- calendar_month 5 jam yang lalu

Rektor UICI Prof. Asep Saefuddin dan Presiden Paguyuban Asep Dunia (PAD) Asep Jaelani sebagai narasumber. (Foto: Dok/Ist).
Lens IDN, Jakarta – Transformasi digital bukan lagi pilihan, melainkan keniscayaan. Di tengah lonjakan penggunaan internet dan masifnya konsumsi media sosial, dunia pendidikan dituntut beradaptasi agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman.
Hal tersebut mengemuka dalam webinar bertajuk “Dari PAD untuk Indonesia” yang diselenggarakan oleh Universitas Insan Cita Indonesia (UICI), Selasa (10/02/2026), menghadirkan Rektor UICI Prof. Asep Saefuddin dan Presiden Paguyuban Asep Dunia (PAD) Asep Jaelani sebagai narasumber.
Dalam paparannya, Prof. Asep menjelaskan bahwa tingkat penggunaan internet di Indonesia terus meningkat secara signifikan.
Indonesia bahkan tercatat sebagai negara dengan jumlah pengguna internet terbesar keempat di dunia. Selain itu, durasi akses internet masyarakat juga semakin panjang, dengan 35,75 persen pengguna mengakses internet selama 4–6 jam per hari.
“Artinya ruang digital sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Pendidikan tidak bisa lagi berjalan dengan pola lama,” ujarnya.
Ia memaparkan, sebanyak 97,4 persen pengguna internet mengakses media sosial, 96,8 persen untuk hiburan, dan 96,4 persen untuk berita. Menariknya, 93,8 persen juga memanfaatkan internet untuk kebutuhan pendidikan.
Menurut Prof. Asep, data tersebut menjadi dasar mengapa UICI sejak awal memilih model pembelajaran berbasis digital. Sistem ini memungkinkan mahasiswa belajar secara fleksibel dari mana saja tanpa harus hadir secara fisik di Jakarta.
“Kami memberikan kesempatan kepada anak bangsa untuk melanjutkan pendidikan tinggi secara fleksibel, dari mana saja dan kapan saja. Mahasiswa tidak perlu datang ke Jakarta,” jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, Prof. Asep juga membuka peluang beasiswa khusus bagi calon mahasiswa yang bernama Asep atau memiliki keterkaitan keluarga dengan nama tersebut melalui rekomendasi PAD. Melalui skema tersebut, biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang semula Rp2,5 juta per semester menjadi Rp1,5 juta per semester.
Sementara itu, Presiden PAD Asep Jaelani menegaskan bahwa pendidikan merupakan bagian penting dari visi organisasi. Ia menyampaikan bahwa PAD memiliki visi terwujudnya paguyuban yang berdaya, bermanfaat, dan berintegritas.
“Kita itu sebetulnya berkaitan dengan masalah pendidikan luar biasa. PAD ini punya visi terwujudnya Paguyuban Asep Dunia yang berdaya, bermanfaat, dan berintegritas,” ujarnya.
Ia menjelaskan, visi tersebut diwujudkan melalui empat pilar utama, yakni penguatan agama, optimalisasi kesalehan sosial dan budaya, peningkatan kemandirian ekonomi berbasis potensi anggota, serta penguatan sumber daya manusia yang cerdas dan sehat.
“Barangkali misi yang keempat ini berhubungan dan juga nyambung sekali kalau berkaitan dengan UICI,” tambahnya.
Asep Jaelani juga menyambut baik sistem perkuliahan berbasis teknologi yang diperkenalkan UICI. Menurutnya, transformasi digital membuka peluang besar untuk memperluas akses pendidikan, sekaligus menuntut pendekatan yang holistik dalam pengelolaannya.
“Mengenai digital ini, pertama harus bicara holistik. Artinya semua punya peran masing-masing. Pemerintah harus memiliki regulasi yang melindungi rakyatnya, jangan sampai membuat aturan-aturan yang mengakibatkan teknologi ini menjadi terjerat, apalagi dengan adanya AI,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menghadirkan inovasi, sementara masyarakat—khususnya anggota PAD—perlu membangun pola pikir yang kritis, kreatif, dan beretika dalam menghadapi perkembangan teknologi. (*)
- Penulis: Azkatia
