Polemik “Taubat” Cak Imin dan Bahlil Warnai Hiruk Pikuk Politik di Tengah Bencana
- account_circle Azkatia
- calendar_month Sen, 8 Des 2025

Cak Imin dan Bahlil Warnai Hiruk Pikuk Politik di Tengah Bencana. (Foto: Fakta Pers Media).
Lens IDN, Jakarta— Di saat pemerintah dan masyarakat tengah fokus pada penanganan berbagai bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia, jagat politik nasional justru diwarnai polemik antara dua tokoh penting partai politik, yakni Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, dan Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia.
Polemik tersebut mencuat setelah pernyataan Cak Imin yang menyebut agar Bahlil “bertaubat secara nasuha”. Pernyataan itu kemudian dibalas oleh Bahlil dengan ungkapan serupa yang ditujukan kembali kepada Cak Imin. Adu pernyataan ini pun memantik sorotan publik karena terjadi di tengah situasi darurat kebencanaan yang sedang dihadapi bangsa.
Meski belum diketahui secara pasti latar belakang pernyataan saling sindir tersebut, sejumlah pengamat menilai dinamika itu tidak bisa dilepaskan dari peta politik nasional yang semakin dinamis menjelang kontestasi politik ke depan.
Perbandingan Posisi Politik dan Pengalaman
Secara rekam jejak politik, Cak Imin dikenal sebagai salah satu figur yang telah lama berada dalam lingkar kekuasaan nasional. Ia pernah menduduki sejumlah jabatan strategis, baik di legislatif maupun eksekutif, serta menjadi aktor penting dalam perjalanan politik PKB.
Sementara itu, Bahlil Lahadalia meskipun relatif lebih singkat menempuh jalur politik praktis, kini memegang kendali salah satu partai politik terbesar di Indonesia, yakni Partai Golkar. Dari sisi struktur kekuatan partai, Golkar memiliki basis massa, jaringan kader, serta pengalaman panjang dalam percaturan politik nasional, yang secara historis lebih besar dibandingkan PKB.
Kondisi ini membuat polemik antara dua tokoh tersebut tidak hanya dibaca sebagai persoalan pribadi, tetapi juga sebagai cerminan tarik-menarik kepentingan politik antarpartai.
Sorotan Etika Politik di Tengah Bencana
Sejumlah kalangan menilai bahwa pernyataan saling sindir antar-elite politik di tengah situasi kebencanaan berpotensi mengalihkan fokus publik dari upaya kemanusiaan yang sedang berlangsung. Publik dinilai lebih membutuhkan keteladanan, soliditas, serta kerja nyata para pemimpin dalam membantu para korban bencana.
“Di saat masyarakat sedang berjuang melawan dampak bencana, elite politik seharusnya menunjukkan empati, bukan mempertontonkan rivalitas verbal,” ujar salah satu pengamat politik yang dihubungi media ini.
Tetap dalam Koridor Hukum dan Demokrasi
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi lanjutan baik dari pihak PKB maupun Golkar yang memperjelas konteks pernyataan tersebut. Namun demikian, para ahli hukum pers mengingatkan pentingnya semua pihak menjaga etika komunikasi publik serta tidak melontarkan pernyataan yang dapat menimbulkan kegaduhan sosial.
Sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, pemberitaan wajib mengedepankan prinsip akurasi, keberimbangan, dan tidak menghakimi. Oleh karena itu, setiap pernyataan yang berkembang perlu diklarifikasi agar tidak menimbulkan tafsir yang menyesatkan di tengah masyarakat.
Polemik antara Cak Imin dan Bahlil Lahadalia menjadi gambaran bahwa dinamika politik nasional tetap berlangsung, bahkan di tengah kondisi darurat sekalipun. Tantangan terbesar bagi para elite saat ini adalah bagaimana menjaga stabilitas politik, merawat etika publik, serta menempatkan kepentingan kemanusiaan di atas kepentingan politik jangka pendek.
- Penulis: Azkatia
