Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Juctice Collaborator dalam Kasus Dugaan Korupsi BGN

Juctice Collaborator dalam Kasus Dugaan Korupsi BGN

  • calendar_month Rabu, 17 Jun 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Lens IDN, Kolom – Pengajuan Justice Collaborator (JC) dalam kasus dugaan korupsi di lingkungan Badan Gizi Nasional (BGN) tidak dapat dilihat semata-mata sebagai hak tersangka, melainkan sebagai instrumen hukum luar biasa (extraordinary measure) untuk mengungkap tindak pidana korupsi yang bersifat sistemik dan melibatkan lebih dari satu pelaku. Oleh karena itu, pertanyaan utama yang harus dijawab bukanlah apakah seseorang mengajukan diri sebagai JC, melainkan apakah secara hukum ia memenuhi syarat sebagai JC.

Secara normatif, pengaturan JC terdapat dalam Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 4 Tahun 2011 dan diperkuat oleh berbagai regulasi perlindungan saksi. Syarat fundamentalnya adalah bahwa yang bersangkutan bukan pelaku utama (main perpetrator), mengakui keterlibatannya, serta memberikan keterangan yang signifikan untuk mengungkap pelaku yang memiliki peran lebih besar. Dalam konteks perkara korupsi BGN, status jabatan seseorang menjadi sangat menentukan. Jika pihak yang mengajukan JC berada pada posisi pengambil kebijakan, penentu anggaran, atau memiliki kewenangan strategis dalam proses yang diduga koruptif, maka secara hukum akan sulit dikategorikan sebagai “bukan pelaku utama”. Sebaliknya, apabila ia hanya menjalankan perintah atau berperan sebagai pelaksana yang mengetahui konstruksi kejahatan secara utuh, maka peluang memperoleh status JC menjadi lebih terbuka.

Dari perspektif pemberantasan korupsi, terdapat kekhawatiran bahwa mekanisme JC dapat bergeser dari instrumen pengungkapan kejahatan menjadi strategi mitigasi hukuman. Tidak jarang seorang tersangka yang menghadapi ancaman pidana berat berusaha memosisikan diri sebagai pihak yang kooperatif setelah alat bukti mulai mengarah pada keterlibatannya. Dalam kondisi demikian, penegak hukum harus berhati-hati agar status JC tidak berubah menjadi “jalur negosiasi” yang berpotensi mencederai prinsip kesetaraan di hadapan hukum (equality before the law). Kasus korupsi yang berkaitan dengan program publik seperti Makan Bergizi Gratis memiliki dimensi yang lebih luas dibanding sekadar kerugian keuangan negara. Jika benar terjadi penyimpangan, maka yang dirugikan bukan hanya APBN, tetapi juga hak masyarakat, khususnya kelompok rentan yang menjadi sasaran program. Oleh karena itu, pengungkapan aktor intelektual (intellectual actor) menjadi jauh lebih penting daripada sekadar menghukum pelaku lapangan.

Dalam kerangka tersebut, JC seharusnya digunakan untuk membongkar rantai komando (chain of command) dan pola pengambilan keputusan yang melahirkan tindak pidana korupsi. Penegak hukum harus mampu menjawab apakah korupsi tersebut merupakan tindakan individual, korupsi berjamaah, atau bahkan bagian dari penyalahgunaan kekuasaan yang lebih terstruktur. Jika keterangan JC hanya mengulang fakta yang telah diketahui penyidik dan tidak membuka keterlibatan pihak lain yang lebih dominan, maka nilai pembuktiannya menjadi minim dan alasan pemberian status JC menjadi lemah.

Secara teoritis, korupsi merupakan crime of power (kejahatan kekuasaan). Karena itu, orientasi penegakan hukum tidak boleh berhenti pada pelaku yang paling mudah dijangkau, tetapi harus menembus hingga aktor yang memperoleh manfaat terbesar (beneficial owner) dari tindak pidana tersebut. Di sinilah relevansi JC menjadi penting. Negara tidak membutuhkan JC untuk menghukum pelaku yang sudah jelas bersalah, negara membutuhkan JC untuk mengungkap siapa yang sesungguhnya mengendalikan kejahatan tersebut.

Jika pengajuan JC dalam kasus BGN hanya bertujuan memperoleh keringanan hukuman tanpa disertai kemampuan mengungkap pelaku utama dan konstruksi korupsi secara komprehensif, maka pemberian status tersebut berpotensi mencederai rasa keadilan publik. Namun apabila keterangan yang diberikan mampu membuka keterlibatan aktor yang selama ini tidak tersentuh hukum, maka JC justru menjadi instrumen penting untuk mewujudkan tujuan utama pemberantasan korupsi, yaitu mengungkap kebenaran materiil secara menyeluruh. Dengan demikian, ukuran keberhasilan Justice Collaborator dalam kasus BGN bukan terletak pada siapa yang mengajukannya, melainkan pada sejauh mana keterangannya mampu menyeret aktor utama, membongkar jaringan korupsi, dan memulihkan kepercayaan publik terhadap penegakan hukum.

  • Penulis: Madhur M, M.H., Dosen Institut Darul Ulum Banyuanyar (IDB) Pamekasan. 
  • Editor: Devina

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bendera One Piece Berkibar di Bawah Merah Putih: Aksi Simbolik Mahasiswa Yogyakarta sebagai Bentuk Perlawanan dan Kekecewaan Nasional

    Bendera One Piece Berkibar di Bawah Merah Putih: Aksi Simbolik Mahasiswa Yogyakarta sebagai Bentuk Perlawanan dan Kekecewaan Nasional

    • calendar_month Minggu, 10 Agt 2025
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Yogyakarta –Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Nusantara Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta mengumumkan akan menggelar aksi unik namun sarat makna pada 1–31 Agustus 2025. Dalam aksi tersebut, mahasiswa di berbagai kampus anggota BEM Nusantara D.I. Yogyakarta akan mengibarkan bendera bajak laut One Piece di bawah bendera Merah Putih sebagai simbol kekecewaan dan perlawanan terhadap situasi bangsa […]

  • WhatsApp Image 2025-12-15 at 19.43.41

    Thrifting Merajarela : Dampak Pertumbuhan Bisnis Thrifting terhadap Industri Fashion Lokal di Indonesia

    • calendar_month Senin, 15 Des 2025
    • account_circle Michelle Jovana Soedarto, Mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya.
    • 0Komentar

    Lens IDN, Kolom – Dalam tren fashion bisnis thrifting atau pakaian bekas ini sudah mulai memasuki Indonesia pada tahun 90-an. Bisnis yang dimulai dari kota Bandung ini terus merambah hingga menjangkau seluruh Indonesia tepatnya ketika pandemi COVID-19 melanda. Pertumbuhan bisnis thrifting membuat banyak anak muda hingga pengusaha menengah yang mulai melirik pertumbuhan bisnis tersebut. Namun, […]

  • WhatsApp Image 2025-12-14 at 10.32.46

    Wanda Assyura Ajak Tenangkan Situasi Aceh: “Kritik Perlu, Bantuan Terus Dipercepat”

    • calendar_month Minggu, 14 Des 2025
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Banda Aceh— Kemarahan publik di Aceh kian menguat seiring lambannya bantuan menjangkau sejumlah wilayah terdampak banjir bandang dan longsor. Aksi protes masyarakat bersama kepada anggota DPR Aceh, menjadi penanda bahwa kesabaran rakyat mulai menipis, di tengah jumlah korban jiwa yang terus bertambah dan desa-desa yang masih terisolasi. Aktivis muda asal Aceh, Wanda Assyura, […]

  • sekretaris-kabinet-teddy-indra-wijaya-1751936053432_169

    Indonesia Mulai Ekspor Pupuk Urea ke Australia, Perkuat Posisi di Pasar Global dan Jaga Ketahanan Dalam Negeri

    • calendar_month Rabu, 22 Apr 2026
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Jakarta — Presiden Prabowo Subianto menerima sambungan telepon dari Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, pada Selasa sore (21/4/2026). Dalam percakapan tersebut, pemerintah Australia menyampaikan apresiasi atas langkah Indonesia yang mulai mengekspor pupuk urea ke negaranya sebagai bagian dari penguatan kerja sama bilateral di sektor pertanian dan industri. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengungkapkan bahwa […]

  • WhatsApp Image 2026-08-23 at 17.59.30 (1)

    Mahasiswa Maluku Utara di Yogyakarta Soroti Ketimpangan Pusat-Daerah, Wacanakan Federalisme

    • calendar_month Minggu, 23 Agt 2026
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Yogyakarta — Keresahan terhadap hubungan pemerintah pusat dan daerah yang dinilai belum sepenuhnya menghadirkan keadilan mendorong mahasiswa asal Maluku Utara di Yogyakarta menggelar forum diskusi terbuka. Forum bertajuk “Menuju Negara Federal atau Tetap Dijajah Sentralistik” tersebut berlangsung pada Sabtu, 22 Agustus 2026. Forum yang diikuti kalangan intelektual muda Maluku Utara itu menjadi ruang […]

  • WhatsApp Image 2026-06-30 at 14.13.05

    Mahasiswa Universitas Pamulang Kembangkan Sistem Informasi Layanan Publik Berbasis Website untuk Diskominfo Provinsi Banten

    • calendar_month Selasa, 30 Jun 2026
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Serang – Dua mahasiswa Program Studi Sistem Informasi Universitas Pamulang Kampus Serang berhasil mengembangkan Sistem Informasi Layanan Publik berbasis website sebagai bagian dari pelaksanaan Kerja Praktik di Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian (Diskominfo) Provinsi Banten. Inovasi tersebut dirancang untuk mendukung percepatan transformasi digital pelayanan publik melalui penerapan konsep Electronic Government (e-Government). Mahasiswa […]

expand_less