Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Perempuan yang Tidak Pernah Dimanjakan: Dari Jalan Panjang Sejak Kecil, Menjadi Sosok yang Berhasil

Perempuan yang Tidak Pernah Dimanjakan: Dari Jalan Panjang Sejak Kecil, Menjadi Sosok yang Berhasil

  • account_circle Devina
  • calendar_month 6 jam yang lalu

Lens IDN, Kolom – Ada perempuan yang sejak kecil tidak pernah benar-benar mengenal kata “manja”. Pagi harinya bukan hanya tentang bersiap ke sekolah, tetapi juga menggiring sapi, pergi ke sawah, dan membantu pekerjaan keluarga. Baginya, bermain dan bersantai bukanlah bagian utama dari masa kanak-kanak. Ada tanggung jawab yang harus diselesaikan sebelum ia mengenakan seragam sekolah.

Perempuan itu lahir pada 1968 dan merupakan anak keempat dari sekitar tiga belas bersaudara. Ia tumbuh dalam keluarga yang secara ekonomi tergolong berada. Namun, berada bukan berarti dimanjakan. Ayahnya justru mendidik anak-anaknya dengan keras agar terbiasa bekerja dan tidak bergantung kepada orang lain.

Setiap pagi sebelum sekolah, ia harus pergi ke sawah. Sekolahnya berlangsung siang hari sehingga setelah menyelesaikan pekerjaan, ia harus berjalan kaki menuju pusat kecamatan di bawah terik matahari. Sesekali ayahnya menawarkan untuk mengantarnya. Namun, tawaran itu ditolak. Bukan karena tidak ingin diantar, melainkan karena ia merasa lebih nyaman berjalan bersama teman-temannya. Baginya, perjalanan menuju sekolah justru menjadi bagian yang menyenangkan.

Di sekolah, ia dikenal sebagai anak yang cukup cerdas. Ketika teman-temannya harus berbaris rapi karena hukuman belum hafal pelajaran, ia justru dapat duduk dengan tenang. Bahkan ketika ujian, ia merasa soal-soal yang diberikan relatif mudah dikerjakan. Kemampuannya juga dimanfaatkan oleh kakaknya. Ia sering membantu mengerjakan tugas kakaknya yang berada satu tingkat di atasnya, tentu dengan imbalan yang sudah disepakati bersama. Dari sana terlihat bahwa sejak kecil ia sudah memiliki kemandirian, kemampuan belajar, sekaligus keinginan untuk mendapatkan ‘kompensasi’ melalui usahanya sendiri.

Namun, perjalanan pendidikannya tidak berakhir karena ia tidak mampu belajar. Justru sebuah perkara sederhana menjadi titik balik hidupnya.

Saat duduk di kelas dua SMP, ia meminta ibunya membuatkan lemet, jajanan tradisional yang ia

inginkan untuk dibawa dalam acara Maulid Nabi di sekolah. Permintaannya ditolak karena sang ibu harus mengurus banyak adiknya. Ia kecewa, merajuk, lalu memutuskan tidak masuk sekolah.

Ketika orang tuanya bertanya, “Kamu tidak berangkat sekolah?”

Ia menjawab singkat, “Tidak. Aku tidak mau.”

Hari itu menjadi awal berhentinya ia dari sekolah.

Ayahnya kemudian membelikannya sebuah toko kecil di pasar yang menjual kebutuhan sehari-hari seperti gula dan bumbu dapur. Di sanalah pelajaran lain dimulai. Suatu ketika, beberapa pembeli mengambil barang tetapi belum membayarnya. Ia tentu merasa bingung karena uang hasil dagangan tidak sesuai dengan barang yang keluar. Namun, ayahnya justru berkata, “Tidak apa-apa. Kalau memang rezeki, pasti kembali.”

Beberapa hari kemudian, satu per satu pembeli tersebut datang kembali. Mereka mengatakan bahwa sebelumnya lupa membayar dan menyerahkan uang yang menjadi hak toko. Apakah itu kebetulan atau sesuatu yang lain, ia sendiri tidak pernah menjadikannya persoalan. Yang ia pegang adalah satu hal: kejujuran dalam berdagang tidak boleh ditinggalkan hanya karena orang lain berbuat sebaliknya.

Nilai seperti kejujuran, kerja keras, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap keluarga dapat dilihat sebagai bentuk pengamalan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. BPIP juga menjelaskan bahwa aktualisasi Pancasila tercermin dalam perilaku, pengetahuan, dan sikap masyarakat.

Kini, perempuan itu memiliki usaha toko gerabah di pasar tradisional. Dari usaha tersebut, ia mampu memenuhi kebutuhan keluarga dan membantu membiayai pendidikan empat anaknya. Harta orang tuanya yang dahulu cukup banyak pun tidak menjadi warisan yang dapat dinikmati begitu saja. Sebagian besar habis untuk biaya pengobatan ayahnya pada masa tua. Karena itu, kehidupan yang ia bangun sekarang lebih banyak berasal dari kerja kerasnya sendiri.

Lalu, siapa sebenarnya perempuan yang sejak tadi saya ceritakan?

Ia adalah ibu saya.

Saya tumbuh dari seorang perempuan yang mungkin tidak menyelesaikan pendidikan formalnya, tetapi mengajarkan saya banyak hal yang tidak selalu ditemukan di ruang kelas: bekerja tanpa banyak mengeluh, tidak mudah bergantung kepada orang lain, menjaga kejujuran, dan berusaha memberikan pendidikan yang lebih baik kepada anak-anaknya.

Bagi saya, keteladanan Pancasila tidak selalu hadir dalam sosok besar yang dikenal banyak orang. Kadang, ia tumbuh diam-diam di pasar tradisional, di balik meja toko, dan di tangan seorang ibu yang setiap hari bekerja agar anak-anaknya tetap bisa bersekolah. Sosok itu tidak perlu disebut sebagai pahlawan. Cukup saya panggil: Ibu.

 

Referensi

  • Wawancara pribadi dengan ibu penulis, Gresik, 10 Agustus 2026. Wawancara mengenai riwayat kelahiran, keluarga, pendidikan, kehidupan ekonomi, dan pengalaman berdagang.
  • Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Indeks Aktualisasi Nilai Pancasila (IAP). BPIP menjelaskan aktualisasi Pancasila melalui indikator perilaku, pengetahuan, dan sikap dalam kehidupan sehari-hari.

 

*) Penulis adalah Nur Zahrotun Ainiyah, mahasiswa Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga.

  • Penulis: Devina

Rekomendasi Untuk Anda

  • IMG-20260406-WA0009

    Komitmen Melawan Kekerasan, DEMA FDIKOM UIN Jakarta Siap Kawal Kebijakan hingga Bangun Ruang Aman di Kampus

    • calendar_month Sen, 6 Apr 2026
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Jakarta — Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (DEMA FDIKOM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta kembali menunjukkan komitmennya dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman dan inklusif melalui penyelenggaraan Seminar Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Mahasiswa secara daring. Kegiatan ini mengusung tema “Melawan Kekerasan Seksual, Membangun Ruang Aman melalui Kebijakan dan Kesadaran Kolektif” sebagai […]

  • WhatsApp Image 2025-12-10 at 17.26.29

    Kabarbaru Foundation Gelar Pelatihan Jurnalistik: Dorong Narasi Kritis di Lingkungan Pendidikan 

    • calendar_month Rab, 10 Des 2025
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Malang — Kabarbaru Foundation menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Jurnalistik bertema “Jurnalistik Masuk Kurikulum Sekolah: Membangun Literasi Kritis di Era Post-Truth” pada Minggu, 7 Desember 2025. Acara ini berlangsung di FIB School of Talents Hall Room, Joyogrand Regency, Tlogomas, Malang, dengan melibatkan peserta dari kalangan pelajar, pendidik, komunitas literasi, serta sejumlah pegiat pendidikan. Kegiatan ini […]

  • WhatsApp Image 2026-06-09 at 13.43.44

    Perjalanan Cici Citraeni Menembus Karier Internasional di Bidang Perpajakan

    • calendar_month Sel, 9 Jun 2026
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Jakarta – Berangkat dari keluarga sederhana di Jawa Barat, Cici Citraeni atau yang akrab disapa Citra berhasil membangun karier profesional di bidang keuangan dan perpajakan hingga bergabung dengan perusahaan asal Amerika Serikat sebagai Tax Consultant di JR Accounting. Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, Citra mengaku tumbuh dalam lingkungan keluarga yang menanamkan nilai […]

  • Dr. Daniel Susilo

    Riset Anti-Pembajakan Film Berlanjut, Tim Dr. Daniel Susilo Lakukan Uji Coba di Medan

    • calendar_month Sel, 12 Agu 2025
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Medan – Penelitian nasional untuk memerangi pembajakan film kembali berlanjut di Medan. Tim riset yang dipimpin pakar komunikasi Dr. Daniel Susilo menggelar uji coba modul literasi digital di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara (FISIP USU). Kegiatan ini menjadi bagian dari Penelitian Terapan Kompetitif Nasional yang didanai DPPM Kemdiktisaintek dan […]

  • hjg

    Dari Laut ke Kedutaan: Bagaimana Flotilla Memaksa Negara-Negara Bersikap

    • calendar_month Rab, 15 Okt 2025
    • account_circle Devina
    • 0Komentar

    Lens IDN, Opini – Tensi dunia internasional kembali memanas usai adanya intersepsi militer Israel terhadap armada bantuan kemanusiaan $ Global Sumud Flotilla$  di perairan internasional. Namun, tindakan ini justru memicu gelombang kecaman global. Puluhan negara menilai langkah Israel melanggar hukum maritim internasional. Salah satu yang paling tegas yaitu Kolombia, negara bagian Amerika Latin yang langsung mengusir diplomat […]

  • Word of Mouth

    Analisis Word of Mouth dalam Meningkatkan Minat Beli Konsumen pada Produk Dispenser Reverse Osmosis Advance di Puri Indah Mall

    • calendar_month Sel, 25 Agu 2026
    • account_circle Devina
    • 0Komentar

    Lens IDN, Kolom – Perkembangan industri retail di Indonesia mengalami perubahan yang sangat pesat seiring dengan kemajuan teknologi dan digitalisasi. Saat ini, konsumen tidak hanya melakukan pembelian secara langsung di toko fisik, tetapi juga memanfaatkan berbagai platform digital untuk mencari informasi sebelum memutuskan membeli suatu produk. Perubahan perilaku tersebut membuat perusahaan harus mampu menyesuaikan strategi […]

expand_less