Produktif atau Sekadar Lelah? Mitos Besar Budaya Hustle
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month Ming, 18 Jan 2026

Ilustrasi - (Foto: AI).
Lens IDN, Kolom – Dalam beberapa tahun terakhir, dunia kerja dihadapkan pada dua narasi besar yang saling berseberangan: budaya hustle dan work-life balance. Di satu sisi, budaya hustle memuja kerja keras tanpa henti, jam kerja panjang, dan pengorbanan waktu pribadi demi pencapaian karier. Di sisi lain, work-life balance menekankan keseimbangan antara pekerjaan, kehidupan pribadi, kesehatan mental, dan kebahagiaan jangka panjang. Pertanyaannya kemudian, di tengah tuntutan zaman yang semakin kompleks, manakah yang lebih relevan untuk diterapkan saat ini?
Budaya hustle berkembang seiring dengan naiknya ekonomi digital, startup culture, dan glorifikasi produktivitas. Ungkapan seperti “kerja dulu, nikmati nanti” atau “kalau mau sukses, jangan banyak istirahat” menjadi semacam mantra generasi muda. Media sosial turut memperkuat narasi ini dengan menampilkan kisah-kisah pengusaha sukses yang bekerja 16 jam sehari, tidur minim, dan mengorbankan kehidupan sosial demi ambisi. Hustle sering diposisikan sebagai simbol mentalitas pejuang—bahwa lelah adalah harga yang wajar untuk sebuah keberhasilan.
Tidak dapat dimungkiri, budaya hustle memiliki sisi positif. Etos kerja tinggi dapat mendorong produktivitas, inovasi, dan daya saing. Dalam kondisi tertentu—misalnya saat membangun usaha dari nol atau menghadapi tenggat waktu krusial—kerja ekstra memang dibutuhkan. Banyak pencapaian besar lahir dari periode kerja keras yang intens. Namun, masalah muncul ketika budaya hustle dijadikan standar permanen, bukan fase sementara.
Ketika kerja tanpa henti dinormalisasi, batas antara kehidupan pribadi dan profesional menjadi kabur. Waktu istirahat dianggap kemalasan, sementara kelelahan dipuja sebagai tanda dedikasi. Dalam jangka panjang, pola ini justru kontraproduktif. Berbagai studi menunjukkan bahwa jam kerja berlebihan berkorelasi dengan menurunnya konsentrasi, meningkatnya kesalahan kerja, dan turunnya kreativitas. Tubuh dan pikiran manusia memiliki batas, dan memaksanya terus-menerus hanya akan berujung pada kelelahan kronis atau burnout.
Di sinilah konsep work-life balance menawarkan perspektif yang berbeda. Work-life balance tidak berarti anti-kerja keras atau malas bekerja. Sebaliknya, konsep ini menekankan pengelolaan energi, waktu, dan prioritas secara berkelanjutan. Pekerjaan tetap penting, tetapi bukan satu-satunya pusat kehidupan. Keluarga, kesehatan, relasi sosial, dan waktu untuk diri sendiri juga dipandang sebagai elemen esensial dalam kehidupan yang utuh.
Dalam konteks kesehatan, perbedaan dampak kedua budaya ini sangat jelas. World Health Organization telah mengakui burnout sebagai fenomena yang berkaitan dengan stres kerja kronis yang tidak berhasil dikelola. Burnout tidak hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi juga fisik—mulai dari gangguan tidur, masalah jantung, hingga penurunan sistem imun. Budaya hustle yang ekstrem berkontribusi besar pada kondisi ini, sementara work-life balance justru dirancang untuk mencegahnya.
Dari sisi produktivitas, work-life balance sering kali disalahpahami sebagai penghambat kinerja. Padahal, banyak perusahaan global menunjukkan bahwa jam kerja yang manusiawi, fleksibilitas waktu, dan perhatian pada kesejahteraan karyawan justru meningkatkan output kerja. Karyawan yang cukup istirahat cenderung lebih fokus, kreatif, dan loyal. Produktivitas tidak lagi diukur dari lamanya waktu bekerja, melainkan dari kualitas hasil kerja.
Di era pascapandemi, relevansi work-life balance semakin menguat. Pandemi COVID-19 memaksa banyak orang bekerja dari rumah, menyatukan ruang kerja dan ruang hidup dalam satu tempat. Kondisi ini membuka mata banyak pekerja bahwa hidup tidak semata-mata tentang pekerjaan. Banyak orang mulai mengevaluasi ulang prioritas hidup, mempertanyakan makna sukses, dan menuntut sistem kerja yang lebih manusiawi. Fenomena quiet quitting, meningkatnya kesadaran kesehatan mental, hingga tren kerja fleksibel adalah refleksi dari pergeseran nilai tersebut.
Namun, bukan berarti budaya hustle sepenuhnya tidak relevan. Dalam realitas sosial-ekonomi tertentu—terutama di negara berkembang—kerja keras ekstra sering kali masih menjadi strategi bertahan hidup. Tidak semua orang memiliki privilese untuk memilih ritme kerja ideal. Oleh karena itu, perdebatan hustle vs work-life balance seharusnya tidak dilihat secara hitam-putih. Yang dibutuhkan adalah keseimbangan kontekstual: kerja keras yang disadari batasnya, serta istirahat yang tidak disertai rasa bersalah.
Relevansi hari ini bukan pada memilih salah satu secara ekstrem, melainkan pada transformasi cara pandang terhadap kerja. Kerja seharusnya menjadi sarana untuk mencapai kehidupan yang layak dan bermakna, bukan tujuan yang mengorbankan segalanya. Budaya hustle yang tidak dikritisi berisiko melanggengkan eksploitasi diri, sementara work-life balance menawarkan pendekatan yang lebih berkelanjutan bagi individu dan organisasi.
Pada akhirnya, di tengah tuntutan zaman yang serba cepat dan kompetitif, work-life balance tampak lebih relevan sebagai fondasi jangka panjang. Bukan karena kita harus bekerja lebih sedikit, tetapi karena kita perlu bekerja dengan lebih bijak. Kerja keras tetap penting, tetapi menjaga kesehatan, relasi, dan kepuasan hidup adalah investasi yang tidak kalah bernilai. Sebab, kesuksesan sejati bukan hanya tentang pencapaian karier, melainkan tentang kemampuan menjalani hidup secara utuh dan bermartabat.
*) Penulis adalah Natasya, Mahasiwa Program Studi International Business Management di Universitas Ciputra.
- Penulis: Tim Redaksi
