Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pendidikan » TKA di SDN Sambiroto: 27 Anak, Satu Simulasi, dan Pertanyaan yang Tak Selesai

TKA di SDN Sambiroto: 27 Anak, Satu Simulasi, dan Pertanyaan yang Tak Selesai

  • calendar_month Kamis, 8 Okt 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Lens IDN, Rembang – Pukul tujuh pagi, ruang kelas VI SDN Sambiroto, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang, sudah terisi. Ada 27 anak. Jumlahnya tidak sampai satu rombongan belajar besar. Tapi justru karena sedikit itulah, setiap wajah terbaca jelas: ada yang serius membuka buku catatan, ada yang masih mengantuk, dan ada yang berulang kali bertanya ke teman sebangkunya, “Nanti soalnya susah nggak?”

Hari itu mereka mengikuti simulasi Tes Kemampuan Akademik. Bukan ujian sesungguhnya. Pelaksanaan TKA yang sebenarnya baru akan digelar semester depan, setelah rangkaian simulasi dan try out selesai. Bagi anak-anak, ini semacam pemanasan. Bagi guru, ini pekerjaan tambahan yang harus dijalankan dengan hati-hati agar tidak berubah menjadi ajang menakuti siswa.

Saya mengamati proses itu dari dekat. Dan saya pulang dengan satu pertanyaan yang tidak selesai: apakah TKA benar-benar akan menjadi alat bantu belajar, atau justru menjadi latihan cemas sejak dini?

Semangat yang Lahir dari Rasa Ingin Tahu

Tidak adil kalau saya hanya melihat sisi gelapnya. Di SDN Sambiroto, simulasi TKA memang membuat anak-anak kembali belajar dengan lebih sungguh-sungguh. Mereka mengulang materi, mencoba soal, dan berlatih disiplin waktu. Guru kelas VI juga jadi punya kesempatan melihat bagian mana yang belum tuntas. Anak yang biasanya malu bertanya mulai berani angkat tangan. Kelas terasa hidup.

Kalau berhenti sampai di situ, TKA bisa menjadi alat diagnosis yang masuk akal. Ia tidak menentukan kelulusan, dan hasilnya dimaksudkan untuk memperbaiki pembelajaran. Secara konseptual, ini bukan kebijakan yang buruk. Pemerintah memang membutuhkan instrumen untuk memetakan capaian belajar secara nasional . Sekolah juga butuh cermin untuk mengetahui di mana siswa perlu dibantu.

Masalahnya, di lapangan, tes jarang berhenti sebagai tes.

Ketika Simulasi Mulai Kehilangan Relnya

Beberapa hari sebelum simulasi, grup WhatsApp wali murid sudah ramai. Pertanyaannya klasik: “Nilainya nanti dipakai untuk apa?” “Kalau jelek, bagaimana?” “Apakah berpengaruh ke SMP?” Orang tua memang wajar khawatir. Tapi kekhawatiran itu menular. Anak-anak menangkap sinyal bahwa ada sesuatu yang harus ditakuti. Padahal mereka masih kelas VI SD. Usia yang seharusnya masih penuh rasa ingin tahu, bukan penuh kecemasan soal skor.

Di sejumlah daerah, keluhan serupa sudah muncul ke permukaan. Ada siswa yang merasa soal TKA terlalu sulit, ada orang tua yang menilai pengacakan soal tidak adil, dan ada anak yang menangis karena tidak bisa mengerjakan . Saya tidak sedang membesar-besarkan kasus di tempat lain. Saya hanya ingin mengatakan bahwa apa yang terasa di SDN Sambiroto bukanlah hal yang berdiri sendiri. Ini adalah gejala dari cara kita memperlakukan sebuah tes.

Analisis di Republika pernah menyoroti hal ini: ketika evaluasi berubah menjadi tekanan, fungsi edukatifnya justru tereduksi. Guru terdorong untuk “mengajar untuk tes”, sementara murid mengalami kecemasan akademik di usia yang seharusnya menjadi fase eksplorasi dan bermain . Kalimat itu terdengar akademis, tapi di ruang kelas ia sangat konkret. Anak yang seharusnya belajar bersosialisasi dan mencintai proses belajar bisa berubah menjadi mesin penjawab soal.

Anak Kelas VI Bukan Mesin Penjawab Soal

Di sinilah saya kadang merasa sistem pendidikan kita terlalu cepat ingin melihat hasil, tetapi belum cukup sabar menemani proses. Kita rapi dalam membuat jadwal, panduan, dan instrumen penilaian. Tapi di ruang kelas, anak-anak tetap manusia kecil yang butuh waktu, rasa aman, dan kesempatan untuk salah.

Saya tidak menuduh TKA sebagai kebijakan yang salah. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa alat ukur tidak boleh berubah menjadi alat penghakiman. Kalau simulasi TKA sampai membuat anak kelas VI belajar karena takut, bukan karena ingin tahu, maka ada yang perlu kita perbaiki dalam cara kita menyikapinya. Bukan pada tesnya semata, tetapi pada tekanan yang kita tempelkan pada tes itu.

Bagi 27 siswa kelas VI SDN Sambiroto, simulasi ini adalah latihan. Try out nanti juga latihan. TKA sesungguhnya semester depan tetap perlu disiapkan, tetapi jangan sampai seluruh kehidupan sekolah dasar dipersempit menjadi urusan menjawab soal. Anak-anak tetap perlu bermain, bercanda, belajar menghargai teman, dan merasakan bahwa sekolah adalah tempat yang menyenangkan. Bukan tempat untuk berlatih cemas sejak dini.

Menjaga TKA Tetap di Relnya

Kalau TKA ingin disebut sebagai keputusan baik, maka ia harus dijaga agar tetap berada di relnya: sebagai alat diagnosis, bukan alat seleksi yang menakutkan. Sekolah perlu diberi ruang untuk tetap menyelenggarakan pembelajaran yang utuh, tanpa harus mengorbankan mata pelajaran lain. Guru perlu didorong untuk mengintegrasikan persiapan TKA ke dalam pembelajaran yang bermakna, bukan sekadar menambah jam latihan soal. Dan yang terpenting, anak-anak perlu terus diingatkan bahwa belajar bukanlah tentang menaklukkan tes, melainkan tentang memahami dunia dan menemukan dirinya di dalamnya.

Pendidikan yang baik bukan yang paling cepat menghasilkan angka, melainkan yang paling sabar menjaga anak tetap ingin belajar. TKA bisa menjadi cermin. Tapi ia tidak boleh berubah menjadi cambuk.

Pagi itu, setelah simulasi selesai, 27 anak itu keluar kelas dengan wajah campur aduk. Ada yang lega, ada yang mengeluh soalnya panjang, ada pula yang langsung bertanya, “Bu, nanti try out kapan lagi?” Saya tersenyum mendengarnya. Setidaknya, untuk hari itu, mereka masih penasaran. Dan rasa penasaran itu jauh lebih berharga daripada sekadar nilai.

  • Penulis: Rifa Nugraha, M.Pd., Guru SDN Sambiroto, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang.
  • Editor: Devina

Rekomendasi Untuk Anda

  • WhatsApp Image 2025-12-15 at 09.59.40

    ISLAMIC GOOD VIBES: Tanamkan Nilai Toleransi melalui Sosialisasi Moderasi Beragama di SMP PGRI 61 Surabaya

    • calendar_month Senin, 15 Des 2025
    • account_circle Novi Pradita Nur Aini, Mahasiswa UPN “Veteran” Jawa Timur.
    • 0Komentar

    Lens IDN, Surabaya — Kegiatan sosialisasi moderasi beragama oleh Mahasiswa UPN “Veteran” Jawa Timur bertajuk “Islamic Good Vibes” dilaksanakan di SMP PGRI 61 Surabaya dengan melibatkan siswa kelas VIII dan IX. Kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai toleransi, sikap saling menghargai, serta pemahaman beragama yang moderat sejak usia sekolah. Sosialisasi berlangsung dengan suasana interaktif dan […]

  • 2519WhatsApp_Image_2025-12-09_at_4.42.41_AM

    WNI Sambut Kedatangan Presiden Prabowo di Islamabad dengan Angklung, Perkuat Diplomasi Budaya Indonesia–Pakistan

    • calendar_month Selasa, 9 Des 2025
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Pakistan – Penyambutan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto di Islamabad, Pakistan, pada Senin (8/12/2025) berlangsung meriah dan penuh nuansa kebangsaan. Selain seremoni kehormatan resmi dari Pemerintah Pakistan, momen tersebut turut dimeriahkan oleh partisipasi Warga Negara Indonesia (WNI) yang menampilkan musik angklung dan lagu-lagu perjuangan saat Presiden tiba di hotel tempatnya bermalam. Penampilan angklung […]

  • IMG-20261007-WA0002_0

    Menko PMK Sugiono Percepat Program Kesehatan, Fokus CKG hingga Penguatan RSUD

    • calendar_month Rabu, 7 Okt 2026
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Sugiono mempercepat orkestrasi lintas sektor untuk menyelesaikan sejumlah isu strategis di bidang kesehatan. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya mewujudkan visi Manusia Indonesia Unggul sekaligus memastikan pelayanan dasar dapat dirasakan masyarakat secara lebih cepat dan merata. Percepatan program kesehatan tersebut dibahas […]

  • Foto Pendukung_Rilis Berita Vaksinasi PMK

    UGM dan Dinas Peternakan Blora Gelar Vaksinasi PMK untuk Lindungi Ternak Petani

    • calendar_month Senin, 11 Agt 2025
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Blora – Bersamaan dengan pelatihan pengolahan limbah pucuk tebu menjadi pakan ternak berkualitas, Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) bersama Dinas Pangan Pertanian Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blora melaksanakan vaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada sapi milik anggota Kelompok Ternak Sendang Agung di Desa Getas, Kecamatan Kradenan, Blora. Kegiatan yang berlangsung […]

  • jhguy

    Laporan Keuangan KPU Ponorogo dan Kepercayaan Publik

    • calendar_month Rabu, 14 Jan 2026
    • account_circle Andina Endartika Sari, Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Muhamadiyah Ponorogo.
    • 0Komentar

    Lens IDN, Kolom – Penyelenggaraan pemilu yang demokratis tidak hanya diukur dari lancarnya tahapan pemungutan dan penghitungan suara, tetapi juga dari bagaimana anggaran publik dikelola dan dipertanggungjawabkan. Dalam konteks ini, laporan keuangan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Ponorogo memiliki peran strategis sebagai salah satu indikator penting integritas dan profesionalisme lembaga penyelenggara pemilu di tingkat lokal. […]

  • WhatsApp Image 2025-12-24 at 13.46.14

    Perkuat Wawasan Kebangsaan, Kaisar Abu Hanifah Gelar Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Sleman

    • calendar_month Senin, 15 Des 2025
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Yogyakarta – Dalam upaya memperkuat rasa kebangsaan dan cinta tanah air, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI) Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB), Kaisar Abu Hanifah, menggelar kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat dan tim sukses bertempat di Joglo Merapi Rasa, Jln. Pakem Kalasan, Kec. Cangkringana, Kab. Sleman, Daerah […]

expand_less