Breaking News
light_mode
Trending Tags
Maaf, tidak ditemukan tags pada periode waktu yang ditentukan.
Beranda » Kolom » Generasi Sandwich : Antara Tanggung Jawab Keluarga dan Mimpi Pribadi

Generasi Sandwich : Antara Tanggung Jawab Keluarga dan Mimpi Pribadi

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Rab, 17 Des 2025

Lens IDN, Kolom – Dalam beberapa tahun terakhir, istilah generasi sandwich semakin sering muncul dalam diskus publik, baik di media massa, akademik, maupun percakapan sehari-hari. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan individu usia produktif yang berada di “tengah” dua generasi: mereka harus mencukupi kebutuhan hidup sendiri, sekaligus menanggung kebutuhan orang tua dan terkadang anggota keluarga lain. Fenomena ini menjadi semakin relevan di Indonesia, seiring meningkatnya biaya hidup, ketidakpastian ekonomi, serta terbatasnya jaminan sosial bagi masyarakat usia lanjut. Generasi inilah yang memikul beban ganda: menjaga keberlangsungan hidup hari ini, sambil berusaha memutus rantai kerentanan ekonomi di masa depan.

Dan, saya merupakan salah satu bagian dari generasi tersebut.

Terlahir sebagai anak kedua sekaligus anak terakhir dalam keluarga, saya menyadari bahwa posisi ini memberikan saya perspektif unik dalam memahami makna kehidupan seiring berjalannya waktu. Sejak kecil, saya tidak pernah merasakan kekurangan kasih sayang dari kedua orang tua saya. Ayah dan Mama selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk saya maupun kakak. Meskipun terkadang cara mereka dalam mendidik atau menunjukkan perhatian tidak selalu mudah saya pahami, saya tetap bersyukur memiliki orang tua seperti mereka dan saya mempunyai tekad untuk suatu saat bisa membalas pengorbanan mereka dengan cara saya sendiri.

Kondisi finansial keluarga membuat pengalaman-pengalaman yang dianggap umum bagi sebagian anak, seperti berlibur bersama orang tua, menjadi hal yang jarang saya alami. Orang tua saya harus memprioritaskan kebutuhan dasar keluarga. Namun, di balik keterbatasan itu, ada peran keluarga besar, terutama Om dan Tante. Sejak kecil, saya sering diajak liburan sederhana, dibelikan perlengkapan sekolah, hingga buku-buku pelajaran baru. Dukungan ini membuat saya merasakan bahwa jejaring keluarga bisa menjadi penopang penting ketika kondisi ekonomi keluarga inti sedang rapuh.

Kehidupan yang damai dan penuh kecukupan emosional itu perlahan berubah ketika Om saya meninggal dunia. Kepergian beliau meninggalkan duka yang sangat mendalam di hati saya. Tidak lama kemudian, hubungan saya dengan Tante juga merenggang karena ia memutuskan untuk menikah lagi. Dua peristiwa ini menjadi titik balik dalam hidup saya, memaksa saya lebih cepat belajar tentang kehilangan, melepaskan, dan menerima perubahan. Dari sinilah, pelan-pelan kedewasaan emosional saya mulai terbentuk.

Memasuki masa remaja, saya menemukan betapa pentingnya kehadiran teman-teman dekat sebagai ruang aman untuk saya berbagi cerita dan tekanan hidup. Namun, fase transisi menuju dewasa benar-benar terasa ketika saya lulus SMK. Di hadapan saya, terbentang dua pilihan yang sering dihadapi generasi sandwich yakni melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi atau bekerja untuk membantu perekonomian keluarga.

Ketika sebagian besar teman sebaya saya melanjutkan studi ke perguruan tinggi, saya mengambil keputusan untuk bekerja. Pilihan ini bukan didasarkan pada hilangnya minat belajar, melainkan karena kebutuhan ekonomi keluarga yang tidak bisa ditunda. Dalam konteks sosial, kondisi ini mencerminkan realitas struktural yang dihadapi banyak anak muda di Indonesia, di mana pendidikan kerap harus dikompromikan demi stabilitas finansial jangka pendek.

Memasuki dunia kerja membuka mata saya terhadap realitas kehidupan dewasa. Rutinitas berangkat pagi dan pulang malam, menghadapi kemacetan ibu kota, polusi, hiruk-pikuk manusia serta berdesakan transportasi umum menjadi pengalaman sehari-hari saya. Kelelahan fisik berpadu dengan tekanan mental, tetapi juga membawa kesadaran baru terhadap orang tua. Saya mulai benar-benar memahami betapa berat perjuangan mereka selama ini, sesuatu yang dulu hanya saya dengar, tetapi kini saya rasakan sendiri.

Dalam kajian psikologi dan sosiologi, kondisi yang dialami generasi sandwich sering dikaitkan dengan meningkatnya beban peran (role overload). Individu tidak hanya bertanggung jawab atas dirinya sendiri, tetapi juga atas keluarga. Tanpa dukungan sistemik, kondisi ini berpotensi memicu stres berkepanjangan dan kelelahan emosional. Namun, di sisi lain, situasi ini juga dapat membentuk ketahanan (resilience) dan kemampuan adaptasi yang tinggi.

Setelah beberapa bulan bekerja, saya menyadari bahwa pekerjaan pertama saya tidak sepenuhnya selaras dengan minat dan tujuan jangka panjang. Meski demikian, saya tetap bertahan hingga menemukan peluang kerja lain yang lebih sesuai, meskipun menuntut pengorbanan waktu dan tenaga yang lebih besar. Di tengah kesibukan itu, saya mengambil keputusan penting yaitu melanjutkan pendidikan ke pergurunan tinggi sambil tetap bekerja.

Keputusan ini tentu membawa konsekuensi yang tidak ringan. Waktu istirahat berkurang drastis, hari libur nyaris tidak ada, dan energi harus dibagi antara pekerjaan dan perkuliahan. Namun, saya meyakini bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang yang dapat membuka peluang hidup yang lebih baik, sekaligus upaya untuk keluar dari kerentanan ekonomi yang diwariskan secara struktural.

Saat ini, saya berada pada fase kehidupan yang lebih stabil. Jam kerja lebih manusiawi, penghasilan lebih layak, dan ruang untuk pengembangan diri semakin terbuka. Ketika menengok ke belakang, perjalanan ini mengajarkan bahwa menjadi bagian dari generasi sandwich bukan hanya soal beban finansial, tetapi juga proses pembentukan nilai hidup.

Generasi sandwich belajar tentang tanggung jawab lebih awal, memahami arti empati, dan memaknai kerja keras secara nyata. Saya yakin bahwa apa yang telah saya dapatkan sekarang ini adalah sebab akibat dari doa-doa yang dipanjatkan oleh kedua orang tua saya, terutama Mama. Segala nikmat dan rezeki, mulai dari bisa makan setiap hari, merasa aman saat bepergian, mendapatkan bangku kosong pada saat naik transportasi umum, hingga mampu membantu sesama adalah anugerah dari Allah SWT atas perantara doa Mama. Saya sangat menyayangi mereka dan bersyukur bisa menjalani kehidupan ini dengan orang-orang tersayang di sekeliling saya.

Fenomena generasi sandwich seharusnya tidak seharusnya dipandang sebagai kegagalan individu, melainkan cerminan kondisi sosial dan ekonomi yang lebih luas. Oleh karena itu, dibutuhkan dukungan kebijakan publik, seperti jaminan sosial yang memadai, akses pendidikan terjangkau, serta peningkatan literasi keuangan, agar generasi ini tidak terus berada dalam tekanan berlapis.

Menjadi generasi sandwich bukanlah pilihan yang mudah. Namun, di balik setiap pengorbanan, selalu ada proses pembelajaran dan harapan. Dengan ketahanan, dukungan keluarga, dan kebijakan yang berpihak, generasi sandwich bukan hanya mampu bertahan, tetapi juga tumbuh sebagai generasi yang kuat dan berdaya.

 

*) Penulis adalah Komalasari, Mahasiswi Akuntansi Universitas Pamulang.

  • Penulis: Tim Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • GPT-5

    Sam Altman Akui Penurunan Kinerja GPT-5, Janji Perbaikan dan Pertimbangkan Kembalikan GPT-4o untuk Pengguna Plus

    • calendar_month Sen, 11 Agu 2025
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Jakarta – CEO OpenAI, Sam Altman, bersama tim pengembang kecerdasan buatan (AI) menanggapi keluhan publik terkait performa model terbaru mereka, GPT-5, yang dinilai menurun dibandingkan pendahulunya, GPT-4o. Dalam pernyataan yang dikutip dari TechCrunch, Altman mengakui bahwa penurunan tersebut disebabkan oleh kendala teknis pada fitur baru GPT-5, yakni real-time router. Fitur ini berfungsi menentukan […]

  • IMG-20251112-WA0022

    Indonesia Tawarkan Model Kerukunan Dunia Lewat Program Indonesian Interfaith Scholarship 2025

    • calendar_month Rab, 12 Nov 2025
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Jakarta — Indonesia kembali memperkuat perannya sebagai pusat inspirasi kerukunan dunia melalui program Indonesian Interfaith Scholarship (IIS) 2025 yang digelar oleh Kementerian Agama RI bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri RI. Program ini menghadirkan sepuluh tokoh lintas agama dan kebudayaan dari Austria untuk mempelajari langsung praktik hidup rukun di tengah keberagaman Indonesia. Mengusung […]

  • Gemini_Generated_Image_ha0930ha0930ha09

    Optimalisasi Islamic Social Fund System (Zakat, Infaq, Sedekah, dan Wakaf) terhadap Pengembangan Sektor Usaha Kecil dalam Pemanfaatan The window of opportunity Tahun 2020-2030 di Indonesia

    • calendar_month Sel, 27 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    Lens IDN, Kolom – The Windows Of Opportunity atau Demografic Dividend adalah Keuntungan ekonomis yang disebabkan oleh menurunnya Rasio Ketergantungan sebagai hasil penurunan fertilitas jangka panjang (Wongboonsin, dkk. 2003). Selain itu Dampak transisi demografi yang menurunkan proporsi umur penduduk muda danmeningkatkan proporsi penduduk usia kerja. Menjelaskan hubungan pertumbuhan penduduk dan ekonomi (Mason, 2001). Menurut John […]

  • Papua Gelar Temu Wicara Implementasi Buku Teks Utama Pendidikan Pancasila: Perkuat Karakter Generasi Muda

    Papua Gelar Temu Wicara Implementasi Buku Teks Utama Pendidikan Pancasila: Perkuat Karakter Generasi Muda

    • calendar_month Ming, 17 Agu 2025
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Jayapura – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Papua mengadakan Temu Wicara Implementasi Buku Teks Utama (BTU) Pendidikan Pancasila di seluruh satuan pendidikan se-Tanah Papua, Kamis (14/8). Kegiatan ini juga menghadirkan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) RI melalui Deputi Bidang Pengkajian dan Implementasi PIP. Kepala BPMP […]

  • WhatsApp Image 2025-11-28 at 12.06.36

    Plakat Desa Batah Timur Berbahan Ecobrik, Inovasi Lingkungan Bernilai Edukatif

    • calendar_month Jum, 28 Nov 2025
    • account_circle Azkatia
    • 0Komentar

    Lens IDN, Bangkalan – Program kerja pembuatan plakat nama Desa Batah Timur menjadi wujud kontribusi nyata dalam memperindah lingkungan sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah berbasis ecobrik. Plakat yang kini terpasang di kawasan desa tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penanda identitas wilayah, tetapi juga merepresentasikan komitmen warga terhadap pelestarian lingkungan. Keunikan plakat terletak pada […]

  • WhatsApp Image 2026-01-29 at 15.49.46

    Jelang Aksi Ojol, Intelkam PMJ Dorong Koalisi Ojol Nasional Tempuh Jalur Audiensi

    • calendar_month Jum, 23 Jan 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Lens IDN, Jakarta — Direktorat Intelijen dan Keamanan (Dit Intelkam) Polda Metro Jaya (PMJ) melakukan silaturahmi dengan Komunitas Ojek Online yang tergabung dalam Koalisi Ojol Nasional (KON). Kegiatan tersebut bertujuan membangun komunikasi serta menjaga stabilitas keamanan menjelang rencana aksi unjuk rasa yang akan dilakukan komunitas pengemudi ojek online. Dalam pertemuan tersebut, pihak Dit Intelkam PMJ memberikan sejumlah […]

expand_less